Medan | EGINDO.com – Kelahiran anak ketujuh dari induk orangutan sumatera bernama “Pesek” di kawasan Bukit Lawang, pada Selasa (24/3/2026) lalu, bukan hanya kabar baik, tetapi juga mengingatkan bahwa hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) masih menghadapi banyak ancaman.
Menurut pejabat Balai Besar TNGL, Palber Turnip, kepada wartawan memastikan induk dan bayi dalam kondisi sehat. Namun, dibalik kabar baik itu terselip kegelisahan panjang tentang masa depan habitat alami orangutan Sumatera yang terus menyusut.
Katanya Pesek, yang direhabilitasi sejak 1993 setelah diserahkan warga dari Binjai, telah menjelma dari satwa yang kehilangan kebebasan menjadi individu liar yang mandiri. Pada usia sekitar 38 tahun, ia telah melahirkan tujuh anak, April, Hirim (mati muda), Alam, Wati, Valentino, Pandemik, dan kini bayi tanpa nama yang jenis kelaminnya belum diketahui.
Dijelaskan Palber bahwa setiap kelahiran adalah harapan. Setiap kematian adalah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Leuser merupakan surga yang dikepung. Bentang Leuser, yang menjadi rumah bagi spesies kunci seperti orangutan sumatra, kini menghadapi tekanan serius mulai dari perambahan hutan, pembukaan lahan, hingga konflik manusia dan satwa yang kian meningkat. Dalam konteks ini, kelahiran anak Pesek bukan hanya indikator keberhasilan rehabilitasi, tetapi juga pengingat keras bahwa alam masih bertahan meski terus terdesak.
Menurutnya secara ekologis, keberhasilan reproduksi orangutan di alam liar mencerminkan kualitas habitat yang masih memungkinkan kehidupan berlanjut. Pesek telah membuktikan daya lenting alam: bertahan, beradaptasi, dan berkembang biak di tengah ancaman. Tetapi keberlanjutan spesies ini tidak hanya bergantung pada insting alam, melainkan juga pada pilihan manusia dalam menjaga atau merusak hutan.@
Bs/timEGINDO.com