Bitcoin Menguat Saat Aset Tradisional Tertekan, Investor Diminta Tetap Waspada

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Perkembangan pasar keuangan global dalam dua bulan terakhir memperlihatkan perbedaan arah yang cukup tajam antar kelas aset. Bitcoin mencatat penguatan sekitar 12 persen, berbanding terbalik dengan kinerja S&P 500 yang melemah sekitar 4 persen. Sementara itu, emas—yang selama ini dikenal sebagai instrumen lindung nilai—justru mengalami koreksi signifikan hingga 16 persen.

Tekanan terhadap pasar dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi tersebut berpotensi memperbesar tekanan inflasi global, sekaligus menggeser preferensi investor dalam menempatkan dana mereka di berbagai instrumen investasi.

Sejumlah laporan dari Bloomberg dan Reuters mencatat adanya pergeseran arus modal ke aset alternatif, termasuk kripto, di tengah ketidakpastian yang membayangi pasar keuangan konvensional.

Menanggapi fenomena tersebut, Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyampaikan bahwa penguatan Bitcoin di tengah krisis global bukanlah anomali. Ia menilai pola serupa telah berulang dalam berbagai episode gejolak dunia, seperti pandemi COVID-19, ketegangan Amerika Serikat–Iran pada 2020, hingga konflik Rusia–Ukraina.

Menurut Antony, pada Rabu (25/3/2026), karakter desentralisasi Bitcoin menjadi salah satu faktor utama yang menopang daya tariknya. Selain diperdagangkan tanpa henti selama 24 jam, aset ini juga tidak bergantung pada sistem perbankan tradisional yang rentan terganggu dalam situasi krisis.

“Ketika stabilitas sistem keuangan global terguncang, Bitcoin menunjukkan relevansinya sebagai instrumen yang fleksibel sekaligus berpotensi menjadi alternatif lindung nilai,” ujarnya.

Kendati demikian, investor tetap diingatkan untuk tidak mengabaikan risiko yang melekat. Volatilitas tinggi masih menjadi karakter utama pasar kripto, terlebih dalam lingkungan global yang sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga bank sentral. Kebijakan moneter, khususnya dari The Fed, dinilai akan memainkan peran penting dalam menentukan arah pergerakan pasar ke depan.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, pelaku pasar disarankan untuk lebih cermat dalam menyusun strategi investasi, termasuk melakukan diversifikasi portofolio serta memantau perkembangan inflasi dan kebijakan suku bunga global secara seksama. (Sn)

Scroll to Top