Menu MBG Saat Ramadhan Dipertanyakan, Warga Ramai Posting Menu MBG

Banyak pemilik akun Facebook, memposting menu MBG saat Ramadhan. (Foto: repro facebook)
Banyak pemilik akun Facebook, memposting menu MBG saat Ramadhan. (Foto: repro facebook)

Medan | EGINDO.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan selama bulan Ramadan kini ramai diperbincangkan masyarakat. Sejumlah penerima bantuan mengeluhkan kualitas menu yang dinilai tidak layak konsumsi, bahkan mempertanyakan kandungan gizinya.

Keluhan itu ramai di media sosial seperti facebook. Beberapa temuan di lapangan memicu kekecewaan warga yang ramai diunggah di media sosial (medsos) diantaranya ditemukan apel dalam kondisi busuk, kurma berulat, hingga ayam yang sudah mengeluarkan bau tidak sedap, bahkan menu yang tidak sesuai untuk dikatakan memiliki gizi bagi tumbuh kembang anak sebagai pengkonsumsinya.

Disamping itu selama Ramadhan warga juga menyoroti penggunaan wadah makanan yang dianggap tidak pantas, seperti plastik kresek tipis untuk membungkus makanan siap santap, menggunakan tas yang diisi dengan cemilan atau makanan.

Mariana seorang warga Medan Danai, mengaku kecewa karena menu yang diterima dinilai tidak sesuai dengan konsep Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasalnya karena menu MBG itu kini diganti dengan cemilan. “Kalau yang begini bukan Makan Bergizi Gratis namanya, tapi cemilan yang diberi,” ujarnya

Dia mempertanyakan kandungan gizi dalam paket makanan tersebut. Menurutnya, MBG selama ini identik dengan konsep “empat sehat lima sempurna” yang mengandung unsur karbohidrat, lauk berprotein, sayur, buah, dan susu. Harusnya MBG itu identik dengan 4 sehat 5 sempurna. “Ini yang dikasih roti-roti penuh dengan kandungan glukosa, di mana letak bergizinya. Tanpa protein dan makanan itu bukan dimasak di dapur MBG,” ungkapnya.

Harusnya program tersebut sebaiknya dihentikan sementara selama Ramadan apabila tidak dapat menjamin kualitas dan ketepatan distribusi. Ia mengungkapkan, anaknya pernah menerima menu yang dinilai tidak layak selera anak. “Anakku malah dikasih kacang goreng buat ikan teri gitu, malah tak termakan karena anyep, kurang masak, bagaimana mau anak mau makan bergizi,” katanya.

Hebatnya, ada kalanya menu MBG diganti dengan makanan ringan atau cemilan. Hal ini menurutnya tidak mencerminkan konsep makan bergizi yang seimbang. Menurutnya apabila memang diberikan cemilan, seharusnya tetap memperhatikan keseimbangan gizi, terutama kandungan karbohidrat dan protein. Selain persoalan menu, ia juga menyoroti keterlambatan distribusi makanan ke sekolah. Selama Ramadan, jam belajar siswa lebih singkat dan umumnya sudah pulang sekitar pukul 11.00 WIB. Namun, MBG kerap datang terlambat sehingga anak-anak harus menunggu dalam kondisi berpuasa.

Warga berharap adanya evaluasi menyeluruh, baik dari segi kualitas menu, kandungan gizi, maupun ketepatan waktu distribusi, agar program benar-benar memberikan manfaat bagi siswa dan tidak justru menjadi beban tambahan. Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, pemilik akun Facebook, Damelia Novita yang mempertanyakan apakah makanan yang dibagikan benar-benar sesuai anggaran. “Menurut kalian menu MBG yang aku foto nyampe 15 ribu gak guys?” tanyanya sambil menunjukkan foto menu berbuka program MBG di beranda akunnya berupa roti, kurma, keripik tempe dan telur.@

Bs/timEGIDO.com

Scroll to Top