Rute Transjabodetabek Blok M–Bandara Soetta Diluncurkan, Target Tekan Kemacetan

Ilustrasi TransJabodetabek
Ilustrasi TransJabodetabek

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meluncurkan rute baru layanan Transjabodetabek yang menghubungkan Blok M dengan Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta sebagai upaya mengurangi kemacetan di kawasan bandara sekaligus mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menjelaskan bahwa tingkat penggunaan kendaraan pribadi menuju bandara masih sangat tinggi. Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia serta laporan lapangan, jumlah pengunjung Bandara Soekarno-Hatta mencapai sekitar 54,9 juta orang per tahun. Dari angka tersebut, sekitar 70–80 persen di antaranya masih memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Menurut Pramono, dominasi kendaraan pribadi tersebut berkontribusi signifikan terhadap kepadatan lalu lintas di sekitar bandara. Karena itu, kehadiran rute Transjabodetabek Blok M–Bandara Soetta diharapkan menjadi alternatif mobilitas yang lebih efisien dan terjangkau bagi masyarakat.

“Jika sebagian dari pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum, maka tekanan lalu lintas di sekitar bandara bisa berkurang,” ujar Pramono saat peluncuran layanan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis.

Pada tahap awal operasional, pemerintah menyiapkan 14 unit bus untuk melayani rute tersebut dengan estimasi 1.900 hingga 2.000 penumpang per hari. Pemprov DKI juga optimistis jumlah pengguna dapat meningkat seiring waktu, mengingat pengalaman pada rute Transjabodetabek Blok M–Bogor yang awalnya ditargetkan melayani sekitar 2.000 penumpang per hari, namun kini telah mencapai lebih dari 7.000 penumpang rata-rata harian dan bahkan menembus 8.500 penumpang saat akhir pekan.

Selain meningkatkan konektivitas, bus pada rute baru ini juga dirancang menyesuaikan kebutuhan penumpang yang menuju bandara. Setiap armada dilengkapi ruang khusus untuk menyimpan tas dan koper. Meski demikian, kapasitas bagasi tetap terbatas sehingga sebagian barang bawaan penumpang kemungkinan tetap dibawa ke dalam kabin.

Sejumlah media nasional seperti Antara News dan Kompas.com juga melaporkan bahwa pengembangan jaringan Transjabodetabek menjadi bagian dari strategi Pemprov DKI untuk memperkuat integrasi transportasi kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Kebijakan ini sekaligus diharapkan mampu menekan penggunaan kendaraan pribadi, meningkatkan efisiensi mobilitas perkotaan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan melalui konektivitas transportasi yang lebih baik. (Sn)

Scroll to Top