Keyakinan Konsumen Tetap Optimistis, IKK Februari 2026 Turun Tipis ke 125,2

Logo Bank Indonesia (BI)
Logo Bank Indonesia (BI)

Jakarta|EGINDO.co Survei Konsumen yang dirilis Bank Indonesia menunjukkan bahwa tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian masih berada di zona optimistis meskipun mengalami sedikit penurunan pada Februari 2026.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun 1,8 poin menjadi 125,2 pada Februari 2026 dari 127 pada Januari. Meski mengalami koreksi, level tersebut tetap berada di atas ambang batas optimistis sebesar 100, yang menandakan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional masih kuat. Penurunan indeks ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), yang mencerminkan pandangan masyarakat terhadap prospek ekonomi ke depan.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa hasil Survei Konsumen pada Februari 2026 masih menunjukkan keyakinan masyarakat yang solid terhadap kondisi ekonomi.

Indeks Ekspektasi Konsumen tercatat turun menjadi 134,4 dari 138,8 pada Januari. Sebaliknya, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) justru mengalami peningkatan tipis menjadi 115,9 dari 115,1 pada bulan sebelumnya.

Jika dilihat dari kelompok pengeluaran, penurunan IKK terjadi pada sebagian besar kelompok masyarakat, khususnya kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta serta kelompok Rp1–2 juta. Sementara itu, optimisme meningkat pada kelompok pengeluaran Rp3,1–4 juta dan Rp4,1–5 juta.

Dari sisi demografi usia, penurunan keyakinan konsumen paling besar terjadi pada kelompok usia 41–50 tahun. Secara wilayah, peningkatan optimisme tercatat di sejumlah kota yang disurvei, terutama Surabaya, Banjarmasin, dan Padang.

Survei tersebut juga menunjukkan perubahan pola pengelolaan keuangan rumah tangga. Proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi turun dari 72,3 persen menjadi 71,6 persen. Porsi untuk pembayaran cicilan atau utang juga menurun dari 11,2 persen menjadi 10,6 persen. Sebaliknya, proporsi pendapatan yang disimpan meningkat dari 16,5 persen menjadi 17,7 persen.

Sejumlah laporan media ekonomi seperti Kompas.com dan Bisnis Indonesia menilai peningkatan porsi tabungan rumah tangga tersebut mencerminkan kecenderungan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran, meskipun optimisme terhadap kondisi ekonomi secara umum masih terjaga. (Sn)

 

Scroll to Top