Jakarta|EGINDO.co Dinamika pasar valuta asing domestik kembali menunjukkan eskalasi tekanan terhadap mata uang Garuda. Berdasarkan data transaksi Bank Indonesia (BI) yang diperbarui pada Selasa, 3 Maret 2026, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak di rentang yang cukup lebar, mencerminkan tingginya volatilitas di pasar global.
Bank Indonesia mematok nilai tukar referensi untuk perdagangan hari ini sebagai berikut:
| Mata Uang | Kurs Jual | Kurs Beli |
| USD 1 | Rp16.932,24 | Rp16.763,76 |
Pelemahan tipis Rupiah menuju level psikologis baru ini dipicu oleh kombinasi sentimen risk-off yang melanda pasar negara berkembang (emerging markets). Para analis menyoroti beberapa faktor kunci yang mempengaruhi pergerakan hari ini:
-
Eskalasi Ketegangan Global: Memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah telah mendorong investor untuk beralih ke aset aman (safe-haven assets), yang secara otomatis memperkuat indeks Dolar AS (DXY).
-
Suku Bunga The Fed: Ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) yang diproyeksikan tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer) terus memberikan tekanan pada arus modal keluar dari pasar domestik.
-
Respons Kebijakan BI: Bank Indonesia sejauh ini tetap konsisten melakukan intervensi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan pasar spot guna memastikan volatilitas tetap berada dalam rentang yang dapat ditoleransi oleh fundamental ekonomi nasional.
Kenaikan kurs jual yang mendekati angka Rp17.000 menjadi perhatian serius bagi pelaku industri manufaktur yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor. Di sisi lain, para eksportir komoditas berpeluang mendulang margin lebih besar, meski harus tetap mewaspadai kenaikan biaya logistik global yang turut terkerek naik.
Para pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi domestik dan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia mendatang untuk melihat sejauh mana bank sentral akan menyesuaikan instrumen moneternya dalam menjaga stabilitas nilai tukar tanpa menghambat momentum pertumbuhan ekonomi. (Sn)