Rupiah Melemah Tipis, Kurs Referensi BI Sentuh Rp16.841 per Dolar AS

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat, 27 Februari 2026. Berdasarkan pembaruan terakhir transaksi Bank Indonesia, kurs referensi menunjukkan posisi dolar AS berada di level Rp16.841,79 untuk kurs jual dan Rp16.674,21 untuk kurs beli.

Pergerakan ini mencerminkan rupiah yang masih bergerak fluktuatif di tengah sentimen global, terutama penguatan dolar AS di pasar internasional serta dinamika kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.

Sejumlah analis menilai, tekanan terhadap mata uang Garuda tidak terlepas dari sikap kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat. Seperti dilaporkan Bloomberg, indeks dolar AS masih bertahan di zona kuat seiring ekspektasi suku bunga tinggi yang lebih lama (higher for longer).

Sementara itu, laporan Reuters juga menyoroti arus modal asing di pasar negara berkembang yang cenderung selektif. Investor global disebut lebih memilih aset berdenominasi dolar di tengah ketidakpastian geopolitik dan prospek pertumbuhan ekonomi global yang melambat.

Di dalam negeri, stabilitas nilai tukar tetap menjadi fokus utama otoritas moneter. Bank Indonesia sebelumnya menegaskan komitmennya menjaga keseimbangan pasar valas melalui intervensi terukur di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta optimalisasi instrumen moneter untuk menjaga likuiditas.

Pelaku pasar kini mencermati sejumlah faktor penentu arah rupiah selanjutnya, antara lain:

  • Pergerakan imbal hasil (yield) obligasi AS

  • Arus dana asing di pasar saham dan obligasi domestik

  • Proyeksi inflasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia

  • Kebijakan lanjutan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan

Dengan kurs jual yang mendekati Rp16.850 per dolar AS, pelaku usaha di sektor impor diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam mengelola eksposur valuta asing. Sebaliknya, pelemahan rupiah berpotensi memberikan sentimen positif bagi eksportir karena meningkatkan daya saing harga produk di pasar global.

Ke depan, arah rupiah akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global serta respons kebijakan domestik. Pasar menunggu sinyal lanjutan dari Bank Indonesia guna menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional. (Sn)

Scroll to Top