Jakarta|EGINDO.co Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, meminta SKK Migas segera menetapkan harga gas bagi sektor industri dari Proyek LNG Abadi Blok Masela dengan batas atas US$9 per MMBtu. Kebijakan ini dinilai krusial untuk menjaga daya saing industri nasional sekaligus memastikan keberlanjutan investasi hulu migas.
Arahan tersebut disampaikan dalam sidang terbuka antara Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) dan perwakilan Inpex Masela Ltd di Jakarta, Selasa (25/2/2026). Proyek LNG Abadi merupakan bagian dari pengembangan Blok Masela yang selama ini menjadi salah satu proyek strategis sektor energi nasional.
Menurut Purbaya, kepastian harga gas sangat dibutuhkan pelaku industri dalam menyusun perencanaan bisnis jangka panjang. Ia menekankan bahwa harga energi yang kompetitif akan berdampak langsung pada efisiensi biaya produksi, terutama bagi industri padat energi seperti petrokimia, pupuk, baja, dan keramik.
“Penetapan harga yang terjangkau akan memperkuat struktur industri dalam negeri dan mendorong hilirisasi,” ujarnya dalam forum tersebut.
Pemerintah tengah mempercepat agenda hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Gas bumi dari Masela diharapkan tidak hanya berorientasi ekspor dalam bentuk LNG, tetapi juga mampu menyuplai kebutuhan domestik dengan harga yang rasional.
Sejumlah analis menilai batas harga US$9 per MMBtu masih berada dalam kisaran yang dapat diterima industri, meski tetap perlu dihitung secara komprehensif agar proyek tetap menarik bagi investor. Skema keekonomian proyek, termasuk pembagian hasil dan insentif fiskal, menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan negara dan kelayakan investasi.
Media nasional seperti Bisnis Indonesia sebelumnya menyoroti pentingnya kepastian regulasi dalam proyek-proyek hulu migas besar agar tidak mengalami penundaan berkepanjangan. Sementara itu, Kontan melaporkan bahwa industri manufaktur dalam negeri terus mendorong harga gas kompetitif demi memperkuat daya saing produk ekspor Indonesia.
Sebagai regulator kegiatan usaha hulu migas, SKK Migas memiliki kewenangan dalam memastikan skema komersialisasi gas berjalan optimal. Penetapan harga industri dari Masela akan menjadi preseden penting dalam tata kelola distribusi gas nasional.
Proyek LNG Abadi sendiri telah lama menjadi perhatian karena nilai investasinya yang besar dan dampaknya terhadap perekonomian wilayah timur Indonesia, khususnya Maluku. Dengan kapasitas produksi yang signifikan, Masela diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama pasokan gas jangka panjang nasional.
Pemerintah berharap keputusan harga dapat segera difinalisasi agar proyek memasuki tahap konstruksi sesuai target. Kepastian ini dinilai penting untuk menjaga momentum investasi sekaligus memastikan pasokan energi terjangkau bagi industri dalam negeri. (Sn)