Kurs BI 25 Februari 2026: Rupiah Ditutup di Level Rp16.914 per Dolar AS

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berdasarkan kurs transaksi yang diterbitkan Bank Indonesia pada Rabu, 25 Februari 2026, menunjukkan posisi Rp16.914,15 per dolar AS untuk kurs jual dan Rp16.745,85 per dolar AS untuk kurs beli.

Angka tersebut menjadi acuan resmi transaksi valas di dalam negeri dan digunakan sebagai referensi pelaku usaha, perbankan, hingga importir dalam menghitung kewajiban pembayaran dalam mata uang asing.

Secara umum, pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika global, terutama arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve. Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed kerap menjadi faktor dominan yang membentuk sentimen terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sejumlah analis menilai tekanan eksternal seperti penguatan indeks dolar AS dan fluktuasi imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memengaruhi stabilitas rupiah. Selain itu, perkembangan harga komoditas global juga menjadi variabel penting mengingat struktur ekspor Indonesia yang masih didominasi komoditas primer.

Sementara itu, merujuk laporan pasar yang dirilis Bloomberg, mayoritas mata uang Asia bergerak variatif di tengah sikap wait and see investor global terhadap data ekonomi terbaru Amerika Serikat. Rupiah sendiri dinilai masih berada dalam rentang yang relatif terkendali dibanding beberapa mata uang regional lain.

Adapun data dari Refinitiv menunjukkan volatilitas rupiah dalam beberapa hari terakhir cenderung moderat, meskipun tekanan eksternal tetap membayangi pasar keuangan domestik.

Bank Indonesia sebelumnya menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi terukur di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder bila diperlukan. Kebijakan stabilisasi ini dilakukan untuk memastikan pergerakan rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.

Dengan kurs transaksi yang dirilis hari ini, pelaku pasar diimbau mencermati perkembangan global dan domestik secara simultan, terutama menjelang rilis sejumlah indikator ekonomi penting yang berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan. (Sn)

Scroll to Top