Oleh: Fadmin Malau
SESEORANG umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah puasa tidak ada orang lain yang mengetahuinya maka sesungguhnya ibadah puasa itu sepi dan senyap dalam hidup keseharian. Hanya Allah Swt yang mengetahuinya seseorang itu benar berpuasa. Pasti hanya Allah Swt dan orang tersebut yang mengetahui, apakah benar dirinya berpuasa.
Orang lain tidak ada yang mengetahuinya termasuk orang-orang yang paling terdekat yakni suami tidak tahu apakah isterinya berpuasa atau sebaliknya. Bisa saja seorang isteri hanya tahu suaminya sama dirinya makan sahur dan ketika pergi bekerja atau beraktivitas si isteri pasti tidak tahu apakah suaminya benar berpuasa meskipun ketika waktu berbuka puasa bersamanya.
Hal yang sama juga dengan anak-anak, kerabat, sahabat dan yang lainnya. Orang hanya bisa melihat seseorang ketika waktu berbuka puasa tiba melakukan berbuka puasa akan tetapi, benarkan seseorang itu berpuasa? Hanya seseorang itu dengan Allah Swt yang mengetahuinya.
Orang hanya bisa melihat ketika acara berbuka puasa. Apakah orang orang yang berbuka puasa bersama itu benar berpuasa? Sesungguhnya tidak ada yang tahu. Jelasnya yang tahu adalah masing-masing pribadi dengan Allah Swt.
Jadilah ibadah puasa itu sebagai ibadah yang sangat istimewa, sangat pribadi. Ibadah puasa, sepi dan senyap dalam keimanan. Berbeda memang ibadah puasa dengan ibadah wajib lainnya. Ibadah puasa sangat berbeda dengan ibadah lainnya seperti shalat, zakat, menunaikan ibadah haji. Namun, hal itu belum kita temukan dalam kehidupan sehari-hari ketika bulan puasa Ramadhan. Belum sejalan dengan aktivitas ibadah puasa itu hanya Allah Swt yang mengetahuinya.
Begitu istimewanya ibadah puasa. Pertama yang dipanggil melaksanakan ibadah puasa adalah orang Islam yang beriman. Firman Allah Swt dalam Alqur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu.”
Kedua dalam pelaksanaannya ibadah puasa hanya Allah Swt yang mengetahuinya apakah seseorang itu benar sedang berpuasa. Orang lain selain Allah Swt tidak akan mengetahuinya. Ketiga pahala ibadah puasa itu, langsung Allah Swt yang memberi nilai atau yang menilainya tanpa perantara para malaikat.
Dengan demikian tepatlah karena hanya Allah Swt yang mengetahuinya apakah seseorang itu benar sedang berpuasa. Dari tiga keistimewaan ibadah puasa itu maka berpuasa bisa melatih diri menjadi manusia atau orang yang sabar sebab dalam melaksanakan ibadah puasa hanya orang yang sedang melaksanakan ibadah puasa itu yang tahu bersama Allah Swt, sedangkan orang lain tidak mengetahuinya maka orang berpuasa itu memiliki iman yang kuat sebab awalnya dipanggil untuk berpuasa karena sudah beriman.
Ibadah puasa menumbuhkan kejujuran pada diri manusia itu sendiri. Jujur pada dirinya sendiri, jujur meskipun orang lain tidak melihat akan tetapi apa yang membatalkan puasa tidak dilakukannya karena Allah Swt yang menilainya, bukan mengharapkan penilaian dari orang lain, dari manusia dan menjadikan diri sebagai manusia yang beriman.
Beriman itu adalah orang yang sabar, maka Allah Swt dalam Alqur’an Surah Az-Zumar ayat 10 yang artinya, “Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang pahala mereka dicukupkan tanpa batas.”
Sesungguhnya dari tiga keistimewaan ibadah puasa itu maka yang muncul adalah sepi dan hening dalam keimanan. Tidak terlihat hiruk pikuk di pusat pasar untuk membeli berbagai barang kebutuhan pokok, semuanya berjalan biasa-biasa saja.
Keutamaan ibadah puasa bulan Ramadhan bisa melatih diri manusia untuk bersabar, jujur, ikhlas dalam hidup. Tegasnya keutamaan puasa pada bulan Ramadhan menjadikan orang yang beriman menjadi taqwa yakni melaksanakan semua yang diperintahkan Allah Swt dan meninggalkan semua yang dilarang Allah Swt.
Untuk itu jelas karena awalnya saja yang dipanggil untuk berpuasa umat Islam yang beriman maka ketika berpuasa masuk dalam golongan umat Islam yang bertaqwa. Keutamaan ibadah puasa pada bulan Ramadhan sebagaimana sabda Rasullullah Saw yang mengatakan puasa sehari di jalan Allah menjauhkan wajah seseorang dari neraka sejauh perjalanan selama tujuh puluh tahun.
Hadits Rasulullah Saw yang artinya, “Setiap amalan Anak Adam, kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sesungguhnya, (amalan) itu adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya karena (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.’ Bagi orang yang berpuasa, ada dua kegembiraan: kegembiraan ketika dia berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia berjumpa dengan Rabb-nya. Sesungguhnya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi.” (HR Abu Hurairah, Al-Bukhary Muslim)
Betapa hebatnya, Allah Swt langsung memberi nilai pahalanya maka ibadah puasa itu menjadi sangat istimewa. Hadist Nabi Muhammad Saw yang artinya, “Sesungguhnya, di surga, ada pintu yang dinamakan Ar-Rayyân. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun yang melewatinya, kecuali mereka. Dikatakan, ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Lalu mereka memasukinya. Jika (orang) terakhir dari mereka telah masuk, (pintu) itupun dikunci sehingga tidak ada seorang pun yang melaluinya.”(HR. Al-Bukhâry dan Muslim)
Puasa ibadah yang sangat istimewa sebab hanya Allah Swt yang mengetahuinya, orang lain tidak ada yang mengetahuinya maka berpuasalah karena puasa tak ada bandingannya.@
***
Penulis Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Muhammadiyah Kota Medan Provinsi Sumatera Utara