Bitcoin Turun ke US$66.450, Pasar Cermati Sinyal Beragam dari The Fed

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Harga Bitcoin kembali bergerak di zona merah dalam perdagangan 24 jam terakhir setelah pelaku pasar mencerna isi risalah rapat terbaru bank sentral Amerika Serikat. Aset kripto terbesar itu tercatat melemah 1,25 persen ke level sekitar US$66.450 atau setara Rp1,11 miliar (asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS) pada Kamis (19/2/2026).

Tekanan terhadap pasar kripto muncul setelah rilis notulensi pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang mengindikasikan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat bank sentral mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya. Dokumen tersebut memperlihatkan bahwa sebagian pembuat kebijakan masih berhati-hati dalam menentukan waktu yang tepat untuk memangkas suku bunga, sementara pihak lain mulai membuka ruang pelonggaran jika inflasi terus menunjukkan tren penurunan.

Sejumlah analis menilai, respons negatif pasar lebih disebabkan oleh penyesuaian ekspektasi investor terhadap jadwal pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS. Sebelumnya, sebagian pelaku pasar memperkirakan penurunan suku bunga bisa terjadi lebih cepat pada paruh pertama tahun ini. Namun, sinyal yang muncul dari risalah rapat membuat ekspektasi tersebut kembali direvisi.

Mengutip laporan Reuters, beberapa pejabat bank sentral masih menekankan pentingnya melihat data inflasi dan pasar tenaga kerja tambahan sebelum mengambil langkah pelonggaran. Hal ini memperkuat pandangan bahwa kebijakan suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama dari perkiraan awal.

Sementara itu, Bloomberg melaporkan bahwa pelaku pasar global saat ini lebih fokus pada perubahan proyeksi dot plot serta pernyataan pejabat bank sentral berikutnya untuk mengukur arah kebijakan selanjutnya. Ketidakpastian tersebut memicu aksi ambil untung di berbagai aset berisiko, termasuk kripto.

Secara historis, pergerakan Bitcoin kerap sensitif terhadap dinamika suku bunga AS. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik instrumen berbasis dolar AS seperti obligasi pemerintah, sehingga mengurangi minat terhadap aset berisiko. Sebaliknya, ekspektasi pelonggaran moneter cenderung menjadi katalis positif bagi kripto dan saham teknologi.

Meski demikian, sejumlah pelaku industri menilai koreksi saat ini masih tergolong wajar dan mencerminkan fase konsolidasi pasar. Volume transaksi tetap terpantau stabil, menandakan belum adanya arus keluar besar-besaran dari investor institusi.

Ke depan, pasar akan mencermati rilis data inflasi AS berikutnya serta pidato para pejabat bank sentral untuk memperoleh kepastian lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter. Selama ketidakpastian tersebut masih berlangsung, volatilitas di pasar kripto diperkirakan tetap tinggi. (Sn)

Scroll to Top