Jakarta|EGINDO.co Memasuki hari kedua Ramadan 1447 Hijriah pada Jumat (20/2/2026), dinamika ekonomi domestik mulai menunjukkan pergerakan yang lebih aktif. Pemerintah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, sementara Muhammadiyah memulai puasa lebih awal pada Rabu, 18 Februari 2026. Perbedaan awal penetapan tersebut kembali menjadi bagian dari dinamika tahunan, tanpa mengurangi kekhusyukan umat Islam dalam menjalankan ibadah.
Ramadan merupakan periode penting bagi perekonomian nasional. Tradisi peningkatan konsumsi rumah tangga, khususnya pada sektor pangan, ritel, fesyen muslim, hingga transportasi, mulai terasa sejak pekan pertama puasa. Permintaan bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, daging, dan aneka kebutuhan berbuka cenderung meningkat, mendorong pelaku usaha memperkuat pasokan dan distribusi.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan di pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan modern menunjukkan tren kenaikan, terutama pada sore hari menjelang waktu berbuka. Lonjakan transaksi ini umumnya berlanjut hingga menjelang Idulfitri, seiring dengan pencairan tunjangan hari raya (THR) dan meningkatnya mobilitas masyarakat.
Berdasarkan jadwal imsakiyah untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada Jumat (20/2/2026), waktu Subuh jatuh pada pukul 04.42 WIB, Dzuhur 12.10 WIB, Ashar 15.19 WIB, Magrib 18.18 WIB, dan Isya 19.28 WIB. Informasi waktu salat ini menjadi acuan penting bagi pelaku usaha kuliner dan jasa, terutama dalam mengatur jam operasional selama Ramadan.
Secara historis, Ramadan berkontribusi signifikan terhadap konsumsi domestik yang menjadi penopang utama produk domestik bruto (PDB). Peningkatan daya beli musiman tersebut kerap menjadi katalis bagi pertumbuhan sektor perdagangan besar dan eceran, industri makanan-minuman, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Meski demikian, stabilitas harga tetap menjadi perhatian utama pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga inflasi tetap terkendali. Upaya pengawasan distribusi dan ketersediaan pasokan diharapkan mampu meredam potensi gejolak harga yang biasanya meningkat seiring naiknya permintaan selama Ramadan.
Dengan momentum Ramadan 1447 H, pelaku usaha optimistis perputaran uang di masyarakat akan menguat dalam beberapa pekan ke depan, sekaligus menjadi penopang pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026. (Sn)