Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tekanan pada perdagangan terbaru. Berdasarkan pembaruan kurs transaksi oleh Bank Indonesia per 19 Februari 2026, dolar AS dipatok di level Rp16.968,42 untuk kurs jual dan Rp16.799,58 untuk kurs beli.
Pergerakan ini mencerminkan pelemahan rupiah yang masih dipengaruhi dinamika global, khususnya penguatan mata uang dolar AS di pasar internasional. Tekanan eksternal tersebut umumnya berkaitan dengan ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat serta arus modal asing yang cenderung selektif ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sejumlah media ekonomi internasional juga menyoroti volatilitas mata uang kawasan Asia. Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa penguatan dolar terjadi seiring sikap hati-hati pelaku pasar terhadap prospek penurunan suku bunga global. Sementara itu, Reuters melaporkan mata uang emerging markets tertekan akibat imbal hasil obligasi AS yang masih kompetitif.
Di dalam negeri, stabilitas rupiah tetap dijaga melalui bauran kebijakan moneter dan intervensi pasar valas oleh Bank Indonesia. Otoritas moneter juga terus mengoptimalkan instrumen likuiditas serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna menjaga kepercayaan investor.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi global berikutnya—termasuk inflasi AS dan arah kebijakan suku bunga The Fed—yang akan menjadi katalis utama bagi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. (Sn)