Vatikan Pastikan Tidak Bergabung dengan Dewan Perdamaian Bentukan Donald Trump

Orang yang berkunjung di Lapangan Santo Petrus di Vatikan. (Foto: Paulus Tamie)
Orang yang berkunjung di Lapangan Santo Petrus di Vatikan. (Foto: Paulus Tamie)

Jakarta | EGINDO.com – Vatikan memastikan tidak akan bergabung dengan Dewan Perdamaian bentukan Trump atau tidak ambil bagian dalam inisiatif Dewan Perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Hal itu disampaikan Sekretaris Negara Vatikan, Pietro Parolin, yang menilai penanganan krisis internasional semestinya berada di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurutnya, Tahta Suci memandang Dewan Perdamaian memiliki karakter yang berbeda dengan forum antarnegara pada umumnya.

Oleh karena itu, Vatikan memilih tidak terlibat. Pietro Parolin menekankan bahwa pada level global, pengelolaan konflik dan krisis seharusnya dikoordinasikan oleh PBB, sebuah prinsip yang selama ini konsisten disuarakan Vatikan.

Dewan Perdamaian dibentuk Trump menyusul rencana pengelolaan sementara Gaza pascagencatan senjata yang rapuh pada Oktober lalu. Awalnya, dewan terebut dirancang untuk mengawasi tata kelola sementara wilayah Gaza. Namun belakangan, Trump menyatakan dewan tersebut dengan dirinya sebagai ketua akan diperluas perannya untuk menangani konflik global. Pertemuan perdana dijadwalkan berlangsung di Washington pada Kamis, dengan agenda utama membahas rekonstruksi Gaza.

Sejumlah pihak internasional bersikap hati-hati terhadap undangan Trump. Italia dan Uni Eropa menyatakan hanya akan hadir sebagai pengamat, tanpa bergabung secara resmi. Sejumlah pakar hak asasi manusia mengkritik pembentukan dewan ini karena dinilai menyerupai struktur kolonial, terutama karena dipimpin langsung oleh presiden AS dan tidak melibatkan perwakilan Palestina.

Disamping itu kritik juga datang dari kalangan akademisi dan pengamat internasional yang menilai keberadaan dewan berpotensi melemahkan peran PBB. Meski beberapa sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah memilih bergabung, negara-negara Barat lainnya sejauh ini cenderung menjaga jarak. Situasi di Gaza sendiri masih jauh dari stabil. Gencatan senjata yang dimulai Oktober lalu kerap dilanggar. Ratusan warga Palestina dan empat tentara Israel dilaporkan tewas sejak kesepakatan tersebut berlaku.@

Bs/timEGINDO.com

Scroll to Top