Tradisi Munggahan, Warisan Budaya Sunda Sambut Ramadhan

ilustrasi munggahan
ilustrasi munggahan

Jakarta|EGINDO.co Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Sunda kembali menghidupkan tradisi munggahan, sebuah kearifan lokal yang sarat makna spiritual dan sosial. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun sebagai bentuk persiapan lahir dan batin sebelum menjalankan ibadah puasa.

Munggahan berasal dari kata munggah dalam bahasa Sunda yang berarti “naik.” Filosofinya merujuk pada upaya meningkatkan kualitas diri, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia, sebelum memasuki bulan penuh berkah.

Sejarah munggahan tidak lepas dari proses penyebaran Islam di tanah Sunda pada abad ke-15 hingga 16. Para ulama saat itu memadukan dakwah dengan pendekatan budaya agar lebih mudah diterima masyarakat. Momentum menjelang Ramadhan kemudian diisi dengan kegiatan kebersamaan yang bernilai ibadah.

Tradisi ini berkembang luas di wilayah Tatar Sunda, khususnya di Jawa Barat. Pelaksanaannya beragam, mulai dari makan bersama keluarga, pengajian, doa bersama, hingga ziarah kubur untuk mendoakan leluhur.

Selain mempererat silaturahmi, munggahan juga menjadi sarana saling memaafkan serta menguatkan komitmen menjalankan ibadah puasa. Nilai kebersamaan sangat terasa, terutama melalui kegiatan makan bersama atau botram yang melibatkan keluarga besar dan warga sekitar.

Di era modern, tradisi munggahan tidak hanya dilakukan di kampung halaman. Masyarakat perkotaan hingga perantau Sunda di berbagai daerah di Indonesia turut melestarikannya, bahkan mengemasnya dengan kegiatan sosial seperti santunan dan bakti masyarakat.

Meski zaman terus berubah, munggahan tetap menjadi simbol rasa syukur dan kegembiraan menyambut Ramadhan, sekaligus pengingat pentingnya membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci. (Sn)

Scroll to Top