IHSG Menguat ke 8.285, Saham Konglomerat Kompak Jadi Motor Penggerak

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada sesi I perdagangan Rabu (18/2/2026) dengan kenaikan 0,89% ke posisi 8.285,09. Sepanjang paruh pertama perdagangan, indeks bergerak variatif dalam rentang 8.227,45 hingga 8.302,16. Reli IHSG terutama ditopang oleh akselerasi saham-saham yang terafiliasi dengan sejumlah konglomerat nasional.

Penguatan paling menonjol datang dari kelompok usaha milik Happy Hapsoro. Saham PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) melonjak 15,82% menjadi Rp366, diikuti PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) yang terapresiasi 8,58% ke Rp7.275. Kenaikan juga terjadi pada saham RAJA, BUVA, dan SINI yang seluruhnya ditutup di zona hijau pada sesi pagi.

Dari kelompok Bakrie, saham-saham yang terafiliasi dengan Aburizal Bakrie mayoritas mencatatkan penguatan. UNSP memimpin kenaikan dengan lonjakan 9,7%, disusul BUMI, DEWA, ELTY, dan ENRG. Satu-satunya yang terkoreksi adalah BRMS yang turun tipis.

Sementara itu, saham grup milik Prajogo Pangestu bergerak relatif solid. BREN, BRPT, CDIA, dan PTRO kompak menguat, sedangkan TPIA mengalami pelemahan terbatas di tengah kecenderungan sektor energi dan petrokimia yang masih fluktuatif.

Pada kelompok Djarum, saham perbankan dan infrastruktur menopang penguatan, di antaranya BBCA, DATA, SSIA, serta TOWR. Namun demikian, saham digital commerce BELI dan sektor rumah sakit HEAL mengalami koreksi ringan. Adapun saham-saham yang berelasi dengan Boy Thohir juga menunjukkan kinerja positif, dipimpin oleh penguatan ADMR.

Secara teknikal, riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat terbatas pada kisaran 8.150–8.300. Proyeksi ini didukung mulai membaiknya sejumlah indikator teknikal setelah pelemahan pada perdagangan sebelum libur panjang.

Sentimen eksternal turut memengaruhi pergerakan pasar. Data inflasi konsumen (CPI) Amerika Serikat yang dirilis lebih rendah dari ekspektasi memberikan ruang optimisme, meski pelaku pasar masih menunggu rilis indeks PCE serta risalah FOMC untuk membaca arah kebijakan suku bunga lanjutan The Fed.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada agenda Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan menandatangani Perjanjian Perdagangan Resiprokal dengan Presiden Amerika Serikat pada 19 Februari 2026. Kesepakatan tersebut mencakup tarif resiprokal 19% bagi sejumlah produk Indonesia—di luar CPO, kopi, dan kakao—serta komitmen impor minyak dan gas dari AS senilai US$15 miliar.

Sejumlah media ekonomi seperti Bloomberg Indonesia dan CNBC Indonesia juga menyoroti bahwa kombinasi sentimen global yang mulai kondusif dan katalis domestik strategis berpotensi menjaga momentum IHSG dalam jangka pendek, meski volatilitas tetap tinggi seiring ketidakpastian arah suku bunga global. (Sn)

Scroll to Top