Jakarta|EGINDO.co Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memaparkan perkembangan penanganan pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatra dan Aceh dalam rapat evaluasi bersama DPR RI, Rabu (18/2/2026). Dalam laporan tersebut, total korban meninggal dunia mencapai 1.205 orang, sementara 139 orang masih dinyatakan hilang. Jumlah pengungsi juga menunjukkan penurunan signifikan, dari lebih dari 2 juta jiwa menjadi sekitar 12 ribu orang yang masih bertahan di tenda darurat.
Dari sisi pemulihan ekonomi dan sosial, pemerintah mulai menggeser fokus ke rehabilitasi permukiman serta pemulihan fasilitas publik. Di Sumatra Barat, seluruh pengungsi telah direlokasi ke hunian sementara (huntara). Wilayah ini mencatat 267 korban meninggal dan 70 orang hilang. Pemerintah juga telah menyalurkan bantuan dana hunian serta memulai perbaikan sarana pendidikan dan layanan kesehatan guna mempercepat aktivitas ekonomi masyarakat.
Sementara itu, di Sumatra Utara, bencana berdampak pada 18 dari 33 kabupaten/kota, mencakup ratusan kecamatan dan desa. Kerusakan rumah dan infrastruktur—termasuk jalan dan fasilitas umum—menjadi tantangan utama distribusi logistik dan pemulihan perdagangan lokal. Jumlah pengungsi turun tajam dari sekitar 53 ribu menjadi 850 orang, dengan konsentrasi terbesar di Tapanuli Tengah.
Adapun di Aceh, korban meninggal tercatat 562 orang dan 29 orang hilang. Pengungsi yang sebelumnya mencapai 1,4 juta kini tersisa sekitar 12.144 orang. Kerusakan rumah dilaporkan mencapai 258 ribu unit dengan tingkat kerusakan beragam, sehingga membutuhkan alokasi anggaran rekonstruksi yang besar serta dukungan lintas kementerian.
Secara umum, karakter bencana menunjukkan pola berbeda menurut topografi. Longsor banyak terjadi di dataran tinggi akibat curah hujan ekstrem yang memutus jalur transportasi dan menghambat arus barang. Di dataran rendah, banjir bandang merusak kawasan permukiman dan sentra ekonomi warga.
Sejumlah media nasional seperti Kompas dan Antara News juga menyoroti bahwa percepatan rehabilitasi infrastruktur, penyaluran bantuan perumahan, serta pemulihan konektivitas logistik menjadi kunci untuk menahan dampak lanjutan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah terdampak. (Sn)