Tradisi Setiap Tahun Menjelang Ramadan di Tapanuli Tengah-Sibolga, Mandi Balimo-limo

Tradisi mandi balimo di sungai (Aek) Sirahar Barus berubah jadi objek wisata sungai. (Foto: Fadmin Malau)
Tradisi mandi balimo di sungai (Aek) Sirahar Barus berubah jadi objek wisata sungai. (Foto: Fadmin Malau)

Catatan: Fadmin Malau

KEINDAHAN alam Tapanuli Tengah lebih banyak dinikmati para wisata musiman yakni wisatawan yang pulang ke kampung halamannya di Tapanuli Tengah pada hari-hari tertentu seperti liburan sekolah, ketika mau memasuki bulan puasa Ramadan, ketika Raya Idul Fitri, ketika Hari Natal dan Tahun Baru, ketika Tahun Baru Imlek dan hari libur keagamaan lainnya.

Ketika memasuki bulan puasa Ramadan, para wisatawan ramai berkunjung ke objek wisata yang ada di Tapanuli Tengah untuk melaksanakan tradisi turun-temurun mandi balimo atau balimo-limo. Tradisi mandi dengan rempah-rempah dimana Balimo diambil dari kata limau atau rempah-rempah yang mendapat awalan ber maka artinya mengerjakan.

Tradisi mandi balimo-limo yang diminati masyarakat Tapanuli Tengah membuat objek wisata pemandian atau sungai dipenuhi wisatawan. Tradisi mandi balimo tempat di sungai maka objek wisata sungai bagaikan lautan manusia.

Hampir semua sungai yang ada di Tapanuli Tengah-Sibolga ramai dikunjungi wisatawan untuk melaksanakan tradisi mandi Balimo-limo sehari sebelum masuk bulan Ramadan. Objek wisata sungai di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga ramai dikunjungi wisatawan seperti aliran Sungai (Aek) Sirahar di Barus, Sungai Sarudik, Sungai Sipansihaporas, Sungai Rindu Alam, Sungai Mela di Sibolga, Sungai Sibundong di Sorkam dan berbagai kecamatan lainnya.

Tidak seperti biasanya, ketika berlangsung tradisi mandi balimo, tepian sungai (Aek) Sirahar di Andamdewi Barus Tapanuli Tengah dipenuhi mobil. (Foto: Fadmin Malau)

Lokasi wisata sungai yang biasanya sepi mendadak ramai. Berbagai fasilitas wisata muncul, para penjual makanan dan minuman, para penjual limau dan penjual berbagai kebutuhan untuk berlimo.

Balimo-limo di Barus, Sumatera Utara, adalah tradisi mandi menggunakan air campuran jeruk limau dan rempah-rempah yang dilakukan masyarakat setempat menjelang bulan suci Ramadhan. Ritual pembersihan diri ini biasanya dilakukan di sungai atau tempat pemandian alami, seringkali berkaitan erat dengan tradisi mamogang (menyembelih kerbau).

Adapun poin penting mengenai Balimo-limo di Barus bertujuan menyucikan diri secara lahir dan batin, membersihkan diri dari kotoran dan dosa sebelum memasuki bulan puasa Ramadhan. Dilakukan oleh warga, baik tua maupun muda, pergi ke sungai atau tempat pemandian untuk mandi dengan ramuan air limau dan rempah-rempah. Biasanya dilakukan pada hari terakhir bulan Sya’ban atau satu hari menjelang puasa.

Para wisatawan musiman yang pulang ke kampung halaman di Tapanuli Tengah-Sibolga ini mengunjungi berbagai objek wisata yang ada. Lepas dari tradisi balimo-limo, melepas lelah di tepi pandai yang indah, menikmati ikan bakar atau ikam sombom di warung makan para nelayan.

Tidak hanya melepas lelah menikmati keindahan pandai dengan debur ombaknya yang ganas menghempas pantai akan tetapi juga melakukan wisata relegi dengan berziarah ke makam-makam syech yang banyak di Tapanuli Tengah, terutama di kota tua Barus ada 44 makam Aulia sebagai petanda kota tua tempat masuknya Agama Islam ke Indonesia.

Para wisatawan musiman di Tapanuli Tengah-Sibolga ini tidak cukup hanya sehari berwisata akan tetapi bisa tiga sampai empat hari. Sehari berwisata sungai dengan melakukan tradisi mandi balimo. Kemudian hari berikutnya seharian di tepi pantai menikmati hempasan ombak Samudra Indonesia, melihat aktivitas para nelayan tradisional dan menikmati kuliner tepi pantai makan ikan Sombom atau ikan bakar ciri khas Tapanuli Tengah. Bisa juga seharian para wisatawan itu memancing ikan di tepi pantai atau ikut nelayan menjalan ikan.

Biasanya hari berikutnya melakukan ziarah ke makam Aulia 44, memilih mana yang disenangi untuk diziarihi karena masing masing makam Aulia 44 itu sebanyak 44 yang lokasinya saling berjauhan serta memiliki lokasi yang berbeda-beda. Bagi yang kuat fisiknya akan memilih berziarah ke makam Syech Mahmud Papan Tinggi di atas Bukit Barisan. Bagi wisatawan yang kurang kuat fisiknya akan berziarah ke makam Mahligai dan makam-makam Aulia lainnya.

Wisatawan musiman ini terjadi setiap tahun dan pengunjungnya setiap tahun semakin banyak. Namun, fasilitas wisatawan yang masih lamban sehingga objek-objek wisata itu kurang berkembang.@

***

Scroll to Top