Jakarta|EGINDO.co Menteri Keuangan Purbaya menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan bagian strategis dari agenda pembangunan nasional, khususnya dalam mendorong pemerataan kesejahteraan dan menjaga stabilitas sosial politik. Ia mengingatkan publik agar tidak terburu-buru mengkritik program tersebut, karena dinilai memiliki peran fundamental dalam menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam forum ekonomi di Graha CIMB Niaga, Kamis (12/2/2026), Purbaya menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan memiliki fondasi kuat tanpa distribusi manfaat yang merata. Ketimpangan, menurutnya, justru berpotensi menimbulkan gejolak sosial yang pada akhirnya menghambat ekspansi ekonomi.
“Program seperti MBG menjadi salah satu instrumen pemerataan. Tanpa stabilitas sosial politik, target pertumbuhan tinggi akan sulit tercapai,” ujarnya.
Selain menyoroti pentingnya MBG, pemerintah juga tengah mempercepat realisasi belanja negara pada awal tahun. Langkah ini ditempuh untuk menjaga momentum konsumsi dan aktivitas produksi, terutama di tengah dinamika global yang masih berisiko terhadap perekonomian domestik.
Percepatan belanja difokuskan pada program prioritas, bantuan sosial, serta proyek yang memiliki efek pengganda tinggi terhadap ekonomi daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya mengungkapkan kebijakan pengalihan dana pemerintah sekitar Rp200 triliun ke sektor perbankan. Penempatan dana ini bertujuan meningkatkan likuiditas sehingga perbankan memiliki ruang lebih luas untuk menyalurkan kredit ke dunia usaha.
Kredit yang lebih ekspansif diharapkan mampu:
-
Mendorong investasi swasta
-
Memperkuat sektor riil
-
Membuka lapangan kerja
-
Menopang pertumbuhan ekonomi nasional
Purbaya menekankan bahwa MBG dan berbagai program sosial lain merupakan bagian dari pilar kebijakan Presiden dalam membangun ekonomi yang inklusif. Pemerintah berupaya menyeimbangkan antara akselerasi pertumbuhan dan perlindungan kelompok rentan.
Sejumlah ekonom yang dikutip oleh Bisnis Indonesia dan Kontan juga menilai bahwa belanja sosial dan penguatan likuiditas perbankan dapat menjadi bantalan penting bagi konsumsi domestik, yang selama ini menjadi kontributor utama PDB Indonesia.
Dengan kombinasi pemerataan melalui program sosial dan stimulus likuiditas ke sektor keuangan, pemerintah berharap stabilitas sosial tetap terjaga sekaligus menciptakan fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi jangka menengah hingga panjang. (Sn)