Sebuah kisah tentang ketangguhan, kemitraan, dan keberhasilan bersama. Ali memulai harinya sebelum matahari terbit. Dengan galah panen dan helm di tangan, ia bersiap menuju perkebunan kelapa sawit tempat ia bekerja sebagai pemanen tandan buah segar (TBS). Selama lima tahun terakhir, ia menjadi bagian dari tenaga kerja Sinar Mas Agribusiness and Food, peran yang ia pilih demi mencari keamanan yang lebih baik bagi kesejahteraan keluarganya.
Sebagai anggota Suku Anak Dalam (SAD), komunitas yang telah lama hidup berdampingan dengan hutan Jambi, kehidupan Ali dulu sangat bergantung pada berburu. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ketergantungannya pada hutan sering kali membawa ketidakpastian. Seiring berkurangnya satwa liar, Ali menyadari bahwa keterampilannya dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga membutuhkan sumber pendapatan yang lebih stabil. “Berburu tidak semudah dulu. Kadang kami dapat banyak, tapi sering juga satu minggu penuh tidak mendapatkan apa-apa,” kenangnya sebagaimana yang dilansir EGINDO.com dari siaran pers Sinar Mas Agribusiness and Food
Saat mengetahui adanya peluang kerja di PT Kresna Duta Agroindo (KDA), ia langsung melamar dengan harapan bisa berkembang bersama perusahaan dan berkontribusi pada sesuatu yang lebih pasti. Kini ia bekerja tujuh jam sehari, enam hari seminggu, memanen buah sawit, dengan penghasilan yang bergantung pada jumlah buah yang ia kumpulkan. “Kalau buah sedikit, tentu pendapatan berkurang. Tapi bekerja di sini, setidaknya saya punya penghasilan tetap, dan bisa pulang bertemu keluarga setiap hari,” katanya. “Itulah yang paling saya nikmati dari pekerjaan ini, waktu bersama keluarga.”
Motivasi terbesarnya jelas: kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya
Ia memiliki tiga anak; dua masih sekolah dan satu masih balita. Bagi Ali, hari gajian setiap tanggal 6 bukan sekadar menerima upah, tetapi kesempatan untuk memastikan masa depan anak-anaknya. Ia ingin memberikan sesuatu yang berarti bagi mereka. “Saya memilih jalan yang bisa buat anak-anak saya sekolah. Dulu orang tua saya tidak memikirkan masa depan saya. Waktu beliau meninggal, saya tidak dapat apa-apa, cuma badan ini saja. Saya tidak mau seperti itu. Pikiran saya, anak-anak saya nanti kalau saya sudah tidak ada, setidaknya mereka punya sedikit harta. Saya ingin mereka lebih maju dari orang tua mereka,” ujar Ali.

Di komunitas yang sama, Sidarmi, 27 tahun, sedang merayakan kemandiriannya. Sebagai seorang pemberondol, ia memperoleh penghasilannya sendiri. “Saya ikut kerja memberondol karena saya kepengen, lihat kawan-kawan kerja memberondol itu punya uang sendiri. Bisa beli jajan anaknya, bisa beli baju anaknya, nggak mengharap gaji suami. Dari situ saya mikir, saya kepengen kerja sendiri juga,” katanya tegas.
Ia memilih menetap di rumah daripada hidup berpindah-pindah, terutama karena ia memiliki anak kecil. Setelah menjalani pelatihan selama seminggu dari para mandor, ia mulai bekerja, menunjukkan kemampuan dan semangatnya. Dalam sehari, ia bisa mengumpulkan 10 hingga 20 keranjang, tergantung cuaca dan tenaga. Ia berangkat bersama suaminya dari rumah mereka yang hanya berjarak satu kilometer, menyeimbangkan tanggung jawab sebagai ibu dari tiga anak sambil terus mengembangkan keterampilannya.
Kisah Ali dan Sidarmi menunjukkan bagaimana komunitas SAD kini mengambil peran baru berdasarkan pilihan, kekuatan, dan aspirasi mereka sendiri. Pengetahuan mendalam mereka tentang alam, etos kerja, dan nilai-nilai keluarga turut mendukung operasional yang berkelanjutan, sementara pelatihan, akses kerja, dan penghasilan yang layak membantu keluarga mereka meraih stabilitas yang lebih besar.@
rel/fd/timEGINDO.com