Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (12/2/2026). Berdasarkan Kurs Transaksi Bank Indonesia (BI) terbaru, posisi dolar AS tercatat di level Rp16.864,90 per USD untuk kurs jual dan Rp16.697,10 per USD untuk kurs beli.
Level tersebut mencerminkan rupiah yang masih bergerak di kisaran Rp16.800-an per dolar AS, sejalan dengan dinamika pasar keuangan global serta permintaan valas domestik.
Bank Indonesia sendiri menetapkan kurs transaksi sebagai acuan dalam transaksi BI dengan pemerintah maupun pihak ketiga, yang diumumkan setiap hari kerja.
Sejumlah publikasi juga menunjukkan posisi rupiah yang relatif selevel. Media ekonomi regional melaporkan kurs dolar AS berada di kisaran Rp16.8 ribuan pada hari yang sama, berdasarkan data Bank Indonesia.
Pergerakan rupiah yang masih terbatas ini tidak terlepas dari faktor eksternal, seperti penguatan dolar global dan ketidakpastian pasar keuangan, di samping faktor domestik.
Sejumlah analis menilai mata uang Garuda masih rentan fluktuasi. Bank Indonesia bahkan menegaskan komitmennya melakukan stabilisasi di pasar valas untuk menjaga rupiah tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.
Di sisi lain, otoritas moneter menargetkan stabilitas kurs dalam jangka menengah. BI sebelumnya memperkirakan nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp16.400–Rp16.500 per dolar AS dalam kerangka asumsi makro 2026.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih dipengaruhi oleh:
-
Arah suku bunga global, khususnya The Fed
-
Arus modal asing ke emerging markets
-
Kinerja neraca perdagangan Indonesia
-
Intervensi stabilisasi Bank Indonesia
Dengan berbagai faktor tersebut, pelaku pasar tetap mencermati ruang penguatan rupiah, meski volatilitas jangka pendek dinilai masih tinggi. (Sn)