Jakarta|EGINDO.co Perayaan Tahun Baru Imlek yang hampir setiap tahun beriringan dengan turunnya hujan tidak hanya dimaknai dari sisi budaya, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi di berbagai sektor. Fenomena ini, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terjadi karena Imlek umumnya jatuh pada Januari–Februari, yakni periode puncak musim hujan di Indonesia akibat pengaruh Monsun Asia yang membawa massa udara lembap dari Samudra Hindia dan Laut Cina Selatan ke kawasan Asia Tenggara.
Dari perspektif ekonomi, kondisi cuaca tersebut kerap memengaruhi pola konsumsi masyarakat selama momentum Imlek. Hujan dengan intensitas tinggi dapat menekan mobilitas dan kunjungan ke pusat perbelanjaan, destinasi wisata, serta kawasan kuliner yang biasanya ramai saat perayaan. Namun di sisi lain, penjualan sektor tertentu seperti ritel daring, kebutuhan rumah tangga, dekorasi, hingga makanan khas justru tetap tumbuh karena tradisi berkumpul keluarga.
Sejumlah media nasional menyoroti dampak ini. Kompas misalnya, pernah melaporkan bahwa momentum Imlek tetap menjadi pendorong konsumsi domestik, terutama pada produk fesyen, hampers, dan makanan, meski faktor cuaca memengaruhi trafik kunjungan langsung. Sementara Bisnis Indonesia mencatat sektor perhotelan dan pariwisata bisa mengalami fluktuasi okupansi apabila curah hujan tinggi terjadi di destinasi utama perayaan.
Bagi pelaku usaha, pola hujan saat Imlek juga menjadi variabel penting dalam perencanaan distribusi dan logistik. Curah hujan tinggi berpotensi menghambat pengiriman barang, terutama di wilayah dengan risiko banjir, sehingga perusahaan biasanya meningkatkan stok lebih awal untuk mengantisipasi lonjakan permintaan.
Di luar pendekatan ilmiah dan ekonomi, masyarakat Tionghoa memandang hujan saat Imlek sebagai simbol keberuntungan dan datangnya rezeki. Gerimis diyakini membawa aliran hoki yang stabil sepanjang tahun, sedangkan hujan lebat yang disertai badai kerap dimaknai kurang baik. Kepercayaan ini, termasuk mitos turunnya Dewi Kwan Im yang membawa berkah, turut membentuk optimisme pelaku usaha dan konsumen dalam menyambut tahun baru lunar.
Dengan demikian, hujan saat Imlek tidak hanya merupakan fenomena meteorologis musiman, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi—memengaruhi konsumsi, distribusi, hingga kinerja sektor pariwisata dan ritel di awal tahun. (Sn)