Jakarta|EGINDO.co Tradisi angpao saat perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya dimaknai sebagai praktik budaya, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan, khususnya terhadap perputaran uang masyarakat. Pemberian amplop merah berisi uang tunai tersebut setiap tahun mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga, transaksi ritel, hingga aktivitas perbankan selama periode libur Imlek.
Dalam perspektif ekonomi, angpao berfungsi sebagai instrumen distribusi pendapatan informal di lingkungan keluarga dan komunitas. Dana yang diterima, terutama oleh anak-anak dan generasi muda, umumnya kembali dibelanjakan untuk kebutuhan konsumsi, hiburan, maupun tabungan, sehingga memperkuat likuiditas musiman di tingkat domestik. Sejumlah pelaku usaha ritel bahkan mengandalkan momentum Imlek sebagai pendorong penjualan awal tahun.
Makna simbolis angpao sendiri tetap melekat kuat. Selain berisi uang, amplop merah dipandang sebagai representasi doa, harapan kemakmuran, dan keberuntungan. Warna merah dalam tradisi Tionghoa diyakini membawa nasib baik sekaligus menolak energi negatif, menjadikan praktik ini terus dipertahankan lintas generasi.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan angpao sebagai uang yang diberikan pada perayaan Imlek, lazimnya kepada anak-anak atau mereka yang belum menikah. Namun dalam praktik ekonomi sosial, tradisi ini juga hadir pada berbagai peristiwa penting seperti pernikahan, kelahiran, ulang tahun, hingga kelulusan, yang turut memicu belanja seremonial.
Sejarah mencatat praktik pemberian uang simbolis ini telah berlangsung sejak era Tiongkok kuno. Pada masa Dinasti Qin, koin yang dirangkai benang merah diberikan sebagai penolak bala bagi anak-anak. Memasuki Dinasti Song, tradisi tersebut berevolusi menjadi pemberian uang dalam amplop merah—format yang bertahan hingga kini.
Seiring diaspora Tionghoa, budaya angpao menyebar ke berbagai kawasan Asia, termasuk Indonesia. Media seperti Kompas dan Antara kerap menyoroti bahwa momentum Imlek, termasuk tradisi angpao, berkontribusi pada peningkatan transaksi ritel, pariwisata, serta sektor makanan dan minuman. Fenomena ini menegaskan bahwa warisan budaya juga memiliki implikasi ekonomi nyata.
Dengan demikian, angpao tidak hanya berfungsi sebagai simbol berbagi rezeki dan doa keberuntungan, tetapi juga menjadi katalis perputaran ekonomi musiman yang memperkuat konsumsi domestik pada awal tahun. (Sn)