Medan | EGINDO.com – Tarif listrik menjadi pemicu utama, Sumatera Utara (Sumut) mengalami inflasi 3,81 persen pada awal tahun 2026. Hal itu diungkapkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat inflasi tahunan (year-on-year) di Sumatera Utara mencapai 3,81 persen pada Januari 2026. Kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,32 di tahun lalu menjadi 111,41 menjadi indikator utama kenaikan harga-harga.
Statistisi Ahli Utama BPS Sumut, Misfaruddin, mengungkapkan bahwa kelompok pengeluaran untuk perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami kenaikan signifikan sebesar 8,42 persen. Komoditas tarif listrik memberikan andil inflasi terbesar, yakni 1,13 persen. Tak hanya sektor energi, lonjakan harga emas perhiasan juga berkontribusi besar terhadap inflasi tahunan dengan andil 0,90 persen, disusul oleh komoditas pangan pokok seperti beras yang menyumbang 0,30 persen. Secara tahunan kita inflasi 3,81 persen, namun secara bulanan (month-to-month), Sumatera Utara justru mengalami deflasi sebesar 0,75 persen.
Kenaikan tarif listrik, harga beberapa komoditas pangan justru mengalami penurunan yang cukup dalam sehingga menahan laju inflasi lebih jauh. Cabai merah menjadi komoditas utama yang memberikan andil deflasi terbesar (0,66 persen), diikuti oleh bawang putih, kentang, dan jengkol. Penurunan harga cabai merah dan cabai rawit inilah yang menyebabkan Sumut mencatat deflasi secara bulanan jika dibandingkan dengan kondisi Desember 2025.
Kemudian seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara yang dipantau IHK-nya mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli yang menembus angka 8,68 persen. Sedangkan inflasi terendah tercatat di Kabupaten Karo sebesar 2,73 persen.@
Rel/fd/timEGINDO.com