Jakarta|EGINDO.co Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Rabu, 4 Februari 2026, dengan pergerakan positif. Pada pembukaan pasar, IHSG tercatat menguat 0,24% ke level 8.142,16, mencerminkan optimisme terbatas di kalangan pelaku pasar di tengah sikap kehati-hatian investor.
Penguatan indeks didorong oleh aksi beli pada saham-saham konglomerasi, khususnya di sektor energi dan tambang. Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjadi motor penggerak, seiring rebound harga komoditas global yang kembali memberi angin segar bagi emiten berbasis sumber daya alam.
Meski demikian, pelaku pasar masih cenderung mengambil posisi wait and see, menantikan kejelasan arah kebijakan pemerintah serta hasil pertemuan antara regulator pasar modal dengan MSCI. Pertemuan tersebut dinilai krusial karena berpotensi memengaruhi persepsi investor asing terhadap pasar saham Indonesia, khususnya terkait status dan bobot Indonesia dalam indeks global.
Analis pasar modal Reza menilai sentimen eksternal saat ini cukup membantu menopang pergerakan IHSG. Menurutnya, penguatan mayoritas bursa Asia, pemulihan harga komoditas utama, serta harapan membaiknya kepercayaan pasar domestik menjadi faktor penahan tekanan jual.
“Saat ini pasar masih menimbang berbagai katalis, baik dari sisi kebijakan maupun global. Namun, sentimen regional yang membaik dan rebound komoditas memberikan ruang bagi IHSG untuk bertahan di zona hijau,” ujar Reza dalam riset hariannya, Rabu (4/2/2026).
Sejalan dengan pandangan tersebut, Bloomberg melaporkan bahwa pasar saham Asia bergerak variatif namun cenderung menguat, ditopang ekspektasi stabilisasi kebijakan moneter global dan pemulihan permintaan komoditas. Sementara itu, CNBC Indonesia menyoroti bahwa arus dana asing masih fluktuatif, menandakan investor global belum sepenuhnya kembali agresif sebelum kepastian kebijakan domestik diperoleh.
Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika kebijakan ekonomi nasional, arah aliran modal asing, serta perkembangan pasar global. Selama faktor-faktor tersebut belum sepenuhnya jelas, volatilitas jangka pendek diperkirakan tetap mewarnai perdagangan di Bursa Efek Indonesia. (Sn)