Jakarta|EGINDO.co Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa tingkat harga konsumen pada Januari 2026 mengalami deflasi secara bulanan sebesar 0,15 persen, berbalik arah dibandingkan kondisi Desember 2025 yang masih mencatat inflasi 0,64 persen. Pelemahan harga ini terutama dipicu oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang menjadi kontributor terbesar deflasi.
Sejumlah komoditas pangan strategis tercatat mengalami koreksi harga, di antaranya cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, serta telur ayam ras. Penurunan harga komoditas tersebut mencerminkan membaiknya pasokan pangan di awal tahun, sebagaimana juga disoroti oleh Kompas dalam laporannya mengenai stabilisasi harga bahan pokok pascaperayaan akhir tahun.
Di sisi lain, tekanan inflasi masih muncul dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mencatat inflasi cukup tinggi sebesar 2,28 persen. Kenaikan ini didorong oleh tren peningkatan harga emas, yang terus bergerak naik sepanjang Januari 2026. Kondisi tersebut turut mendorong inflasi inti meningkat menjadi 0,37 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian Desember 2025 yang sebesar 0,20 persen.
Sementara itu, komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami deflasi cukup dalam sebesar 1,96 persen, seiring turunnya harga pangan segar. Adapun komponen harga yang diatur pemerintah juga mencatat deflasi sebesar 0,32 persen, mencerminkan minimnya penyesuaian tarif administrasi pada awal tahun.
BPS juga mencatat dinamika harga di sejumlah wilayah yang terdampak bencana alam, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ketiga provinsi tersebut mengalami deflasi, dengan Sumatera Barat mencatat deflasi terdalam sebesar 1,15 persen, didorong oleh penurunan harga komoditas pangan seperti cabai, bawang, telur, beras, dan minyak goreng. Fenomena serupa juga dilaporkan oleh CNBC Indonesia, yang menilai penurunan harga ini menjadi bantalan daya beli masyarakat di daerah terdampak.
Meski secara bulanan terjadi deflasi, secara tahunan inflasi Januari 2026 masih berada di level 3,55 persen. Tekanan inflasi tahunan terutama berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, dengan andil inflasi mencapai 1,72 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok ini meliputi tarif listrik, tarif air minum PAM, sewa rumah, serta bahan bakar rumah tangga.
Khusus untuk tarif listrik, BPS menilai kenaikan inflasi dipengaruhi oleh efek basis rendah (low base effect), menyusul adanya kebijakan diskon tarif listrik pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat kenaikan tarif pada awal 2026 tampak lebih signifikan secara statistik. (Sn)