Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, Dipl_Ec, Dipl_Plan., M.Si
Era digital bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan perubahan mendasar dalam cara manusia berpikir, berinteraksi, dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat. Digitalisasi telah menembus hampir seluruh sendi kehidupan—ekonomi, pendidikan, budaya, hingga relasi sosial. Dalam konteks ini, pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah: generasi muda seperti apa yang dibutuhkan hari ini, dan bagaimana komunitas—termasuk komunitas marga—mempersiapkan serta menarik keterlibatan mereka secara bermakna?
Sejarah bangsa Indonesia memberi pelajaran berharga bahwa perubahan besar hampir selalu dimotori oleh generasi muda. Sumpah Pemuda 1928, peristiwa Rengasdengklok 1945, hingga berbagai gerakan kebangsaan menunjukkan bahwa pemuda tidak sekadar menjadi pelengkap sejarah, melainkan aktor utama perubahan. Mereka bergerak dengan keberanian moral, kejernihan gagasan, dan semangat kolektif, bahkan ketika sarana dan prasarana sangat terbatas. Analogi sejarah ini menjadi cermin penting untuk memahami peran strategis generasi muda di era digital saat ini.
Generasi Muda di Era Digital: Maju dan Terdepan
Gagasan tentang generasi muda yang lebih maju dan terdepan memiliki relevansi kuat dalam menghadapi tantangan zaman digital. Maju tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan mengikuti arus teknologi, tetapi mencakup kapasitas memahami, mengelola, dan memanfaatkannya secara kritis dan bertanggung jawab. Sementara terdepan berarti keberanian menjadi pelopor—menciptakan nilai, solusi, dan arah baru bagi masyarakat.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, pemuda Indonesia berada di garis depan dengan alat perjuangan yang sederhana, namun dengan visi besar tentang masa depan bangsa. Di era digital, “alat perjuangan” itu berubah bentuk: dari bambu runcing dan selebaran menjadi pengetahuan, teknologi digital, inovasi, dan jejaring global. Meski konteksnya berbeda, esensinya tetap sama: berjuang untuk kemajuan bersama dan kepentingan kolektif.
Generasi muda yang dibutuhkan hari ini adalah mereka yang:
- Melek digital, mampu menggunakan teknologi sebagai sarana peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan sosial.
- Adaptif dan kritis, tidak gagap menghadapi perubahan cepat, serta mampu memilah informasi secara cerdas.
- Inovatif dan solutif, memanfaatkan digitalisasi untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan budaya.
- Berintegritas, menjunjung nilai moral, etika, dan identitas budaya di tengah keterbukaan global.
Dengan demikian, generasi muda diharapkan tumbuh sebagai pemimpin masa depan yang berakar pada nilai-nilai lokal dan budaya leluhur, namun memiliki wawasan global, sebagaimana para pemuda pendiri bangsa yang mampu melampaui sekat-sekat zamannya.
Peran Komunitas Marga dalam Mempersiapkan Generasi Muda
Persiapan generasi muda tidak dapat dilakukan secara instan. Ia membutuhkan proses berkelanjutan melalui ruang belajar, ekosistem pendukung, serta keteladanan antargenerasi. Dalam sejarah perjuangan bangsa, pemuda tumbuh melalui diskusi, organisasi, dan kesadaran kolektif yang kuat. Prinsip ini tetap relevan dalam konteks komunitas marga pada masa kini.
Komunitas marga memiliki posisi strategis sebagai ruang pembentukan karakter, penguatan identitas, serta transfer nilai dan pengetahuan antargenerasi. Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan antara lain:
- Mendorong literasi digital, melalui pelatihan, diskusi tematik, dan produksi konten edukatif.
- Menyediakan ruang berekspresi dan berkreasi, khususnya bagi generasi muda yang bergerak di bidang digital, industri kreatif, dan kewirausahaan.
- Menanamkan nilai budaya, etika, dan integritas, agar kemajuan teknologi tidak menjauhkan generasi muda dari jati dirinya.
- Membangun kepemimpinan muda, dengan melibatkan mereka secara aktif dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan program komunitas.
Sebagaimana pemuda dahulu dipercaya memimpin organisasi pergerakan dan menentukan arah bangsa, generasi muda hari ini pun perlu diberi kepercayaan, ruang aktualisasi, dan kesempatan memimpin, bukan sekadar menjadi penonton dalam komunitasnya sendiri.
Menarik Minat Generasi Muda untuk Berkontribusi bagi Komunitas Marganya
Salah satu tantangan terbesar komunitas marga saat ini adalah menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) di kalangan generasi muda. Sejarah mengajarkan bahwa pemuda bergerak bukan karena paksaan, melainkan karena merasa menjadi bagian dari perjuangan yang bermakna.
Minat dan partisipasi tidak dapat dipaksakan, tetapi dapat ditumbuhkan melalui pendekatan yang relevan dengan dunia generasi muda. Beberapa strategi yang dapat ditempuh antara lain:
- Mengoptimalkan media sosial (Instagram, TikTok, YouTube, dan platform digital lainnya) sebagai etalase kegiatan, gagasan, dan identitas komunitas marga.
- Menyelenggarakan kegiatan yang inklusif dan menyenangkan, seperti festival budaya, olahraga bersama, diskusi kreatif, atau program sosial.
- Mengemas ulang tradisi secara kreatif, dengan memadukan nilai budaya lokal dan pendekatan modern.
- Berkolaborasi dengan figur muda atau tokoh inspiratif, yang dapat menjadi role model bagi generasi muda.
- Menunjukkan manfaat nyata komunitas, seperti jejaring sosial, pengembangan kapasitas, mentoring, dan dukungan kolektif.
Ketika generasi muda merasakan bahwa komunitas marganya relevan, terbuka, dan memberi ruang tumbuh, maka keterlibatan akan lahir secara alami—sebagaimana pemuda dahulu rela mengorbankan tenaga dan pikirannya demi cita-cita bersama.
Penutup
Generasi muda adalah aset masa depan, dan era digital adalah panggung perjuangannya. Jika dahulu pemuda Indonesia berjuang merebut kemerdekaan bangsa, maka generasi muda hari ini memikul tanggung jawab mengisi kemerdekaan dengan inovasi, integritas, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Komunitas marga memiliki peluang besar untuk menjadi ruang strategis pembentukan generasi yang maju dalam penguasaan teknologi dan terdepan dalam kontribusi sosial, tanpa kehilangan akar budaya dan nilai luhur. Kini saatnya komunitas marga tidak hanya berfungsi sebagai simbol kekerabatan, tetapi juga sebagai ruang aktualisasi, inovasi, dan pengabdian, tempat lahirnya generasi muda yang siap menjawab tantangan zaman.@
***
Penulis adalah Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia / Penggiat Lingkungan