IHSG Tertekan Sentimen MSCI, BEI Berlakukan Trading Halt

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pasar saham domestik mengalami tekanan hebat pada perdagangan Kamis pagi (29/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam hingga menyentuh penurunan 8% pada sesi awal, mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengambil langkah darurat dengan menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt).

Berdasarkan data resmi BEI, IHSG jatuh ke level 7.654,66 pada pukul 09.30 WIB. Penurunan signifikan ini turut memangkas nilai kapitalisasi pasar bursa menjadi sekitar Rp13.846,41 triliun, mencerminkan tekanan jual yang meluas hampir di seluruh sektor.

Tekanan pasar kali ini dipicu oleh sentimen negatif dari penyesuaian indeks global MSCI. Sejumlah saham berkapitalisasi besar Indonesia mengalami penurunan bobot bahkan dikeluarkan dari indeks acuan tersebut, sehingga memicu aksi jual otomatis dari investor institusi global yang mengelola dana berbasis indeks (passive funds).

Fenomena ini mendorong investor asing melakukan strategi de-risking, yakni mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang. Alhasil, arus keluar dana asing tercatat deras sejak awal perdagangan, memperburuk tekanan di pasar saham domestik.

Mengacu pada ketentuan BEI, penghentian sementara perdagangan dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar dan memberi ruang bagi pelaku pasar mencerna informasi secara lebih rasional. Trading halt diberlakukan ketika IHSG turun lebih dari 8% dalam satu hari perdagangan.

Sejumlah analis menilai gejolak ini lebih bersifat eksternal ketimbang mencerminkan fundamental ekonomi nasional. Kompas.com mencatat bahwa kondisi makro Indonesia, seperti inflasi yang relatif terjaga dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, masih menjadi penopang jangka menengah. Namun, tekanan global dan pergeseran portofolio investor asing tetap menjadi risiko utama dalam jangka pendek.

Sementara itu, laporan Bloomberg menyebutkan bahwa volatilitas di pasar Indonesia sejalan dengan tren pelemahan di sejumlah bursa emerging markets, menyusul meningkatnya ketidakpastian kebijakan moneter global dan penyesuaian alokasi aset oleh manajer investasi besar dunia.

Pelaku pasar kini menanti respons lanjutan dari otoritas, termasuk sinyal stabilisasi dari regulator serta potensi masuknya kembali investor domestik untuk meredam tekanan jual. Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan fluktuatif seiring proses penyesuaian pasar terhadap perubahan komposisi indeks global. (Sn)

Scroll to Top