Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa pagi di Jakarta. Rupiah tercatat naik 2 poin atau sekitar 0,01 persen ke level Rp16.780 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah pelemahan dolar di pasar global serta menguatnya yen Jepang yang kerap memberi efek rambatan positif ke mata uang negara berkembang.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa penguatan rupiah tersebut lebih dipengaruhi oleh langkah aktif Bank Indonesia (BI) di pasar keuangan, bukan semata-mata karena sentimen individual atau faktor jangka pendek lainnya. Menurutnya, kebijakan dan strategi bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar terbukti berjalan efektif.
“Bukan karena Pak Thomas saja. Memang langkah Bank Sentral jauh lebih baik dari yang sebelumnya saya perkirakan. Kita serahkan sepenuhnya pengelolaan nilai tukar ke Bank Sentral dan kita percaya mereka mampu. Dalam waktu singkat saja sudah terlihat penguatannya,” ujar Purbaya saat ditemui di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Dari sisi eksternal, tekanan terhadap dolar AS juga berasal dari ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter global. Investor global cenderung mengurangi eksposur pada dolar seiring meningkatnya spekulasi bahwa bank sentral utama dunia akan lebih berhati-hati dalam menjaga pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini memberi ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.
Sejalan dengan itu, Reuters melaporkan bahwa pelemahan dolar AS dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh arus dana yang kembali masuk ke aset berisiko, menyusul sinyal stabilisasi inflasi global dan menguatnya yen Jepang setelah Bank of Japan mengisyaratkan penyesuaian kebijakan moneternya. Sentimen tersebut turut mendukung mata uang kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, pelaku pasar menilai stabilitas rupiah masih akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan Bank Indonesia, baik melalui intervensi di pasar valuta asing maupun pengelolaan likuiditas domestik. Dengan dukungan fundamental ekonomi yang relatif terjaga, rupiah diperkirakan tetap memiliki peluang bertahan di tengah dinamika pasar global yang masih fluktuatif. (Sn)