Tangerang|EGINDO.co Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Tangerang dalam beberapa hari terakhir kembali memicu banjir di sejumlah kawasan strategis. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang menetapkan Pintu Air 10 Neglasari pada status siaga tiga setelah debit Sungai Cisadane melampaui ambang normal, ditandai dengan aktivasi sirene peringatan dini.
Meluasnya genangan diperparah oleh jebolnya tanggul Kali Angke di kawasan Perumahan Taman Griya. Akibatnya, sedikitnya 32 titik di Kota Tangerang terdampak banjir dengan ketinggian air bervariasi hingga dua meter, termasuk wilayah padat penduduk di Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh. Kondisi ini memaksa sebagian warga menghentikan aktivitas ekonomi harian dan mengungsi ke rumah kerabat serta fasilitas umum.
Banjir yang berulang tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga menekan perputaran ekonomi lokal. Sejumlah pelaku usaha mikro dan pedagang kecil dilaporkan tidak dapat beroperasi akibat akses jalan terendam dan kerusakan barang dagangan. Situasi serupa sebelumnya juga disoroti Kompas, yang mencatat banjir di wilayah Jabodetabek kerap menimbulkan kerugian ekonomi hingga miliaran rupiah, terutama pada sektor perdagangan dan jasa skala kecil.
Sementara itu, Tempo menilai banjir yang terus berulang mencerminkan masih lemahnya ketahanan infrastruktur pengendali air di kawasan penyangga ibu kota. Ketidakpastian akibat bencana dinilai berpotensi mengurangi minat investasi, khususnya di sektor properti dan industri yang membutuhkan jaminan keberlanjutan operasional.
Warga terdampak berharap pemerintah daerah dan pusat segera mengambil langkah konkret dan terukur, mulai dari perbaikan tanggul, normalisasi sungai, hingga penguatan sistem drainase. Tanpa solusi jangka panjang, banjir dikhawatirkan akan terus menjadi beban ekonomi yang menghambat pertumbuhan Kota Tangerang. (Sn)