Bitcoin Tergelincir ke Bawah US$90.000, Tekanan Global Picu Aksi Jual Aset Berisiko

Ilustrasi Bitcoin
Ilustrasi Bitcoin

Jakarta|EGINDO.co Harga Bitcoin mengalami koreksi tajam dengan menembus level psikologis US$90.000 dan sempat bergerak di kisaran US$87.000. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global, seiring memanasnya ketegangan geopolitik serta ketidakpastian arah kebijakan ekonomi negara-negara besar.

Tekanan utama datang dari eskalasi konflik geopolitik lintas kawasan, memanasnya perang tarif antara Amerika Serikat dan Eropa, serta volatilitas di pasar obligasi Jepang yang memicu kekhawatiran investor global. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar melepas aset berisiko, termasuk kripto, saham, dan komoditas tertentu, untuk beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Meski demikian, sejumlah analis menilai penurunan harga Bitcoin kali ini lebih dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global ketimbang melemahnya fundamental aset kripto itu sendiri. Koreksi harga dinilai sebagai cerminan meningkatnya keterkaitan Bitcoin dengan dinamika pasar keuangan global.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyampaikan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi dunia. Menurutnya, aset kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global dan sensitif terhadap perubahan sentimen makro.

“Dalam fase ketidakpastian global seperti sekarang, Bitcoin tidak bergerak sendiri. Ketika pasar memasuki mode risk-off akibat tensi geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung terkoreksi secara bersamaan karena aksi jual investor,” ujar Antony, dikutip dari Kontan, Kamis (22/1/2026).

Sejalan dengan pandangan tersebut, laporan Reuters menyebutkan bahwa tekanan di pasar kripto juga terjadi bersamaan dengan melemahnya indeks saham global dan lonjakan imbal hasil obligasi, yang menandakan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Situasi ini menunjukkan bahwa kripto kini semakin diperlakukan layaknya aset keuangan arus utama.

Sementara itu, Bloomberg menyoroti bahwa arus dana keluar dari produk investasi kripto meningkat dalam beberapa hari terakhir, terutama dari investor institusi. Meski demikian, minat jangka panjang terhadap Bitcoin dinilai masih solid, terutama sebagai instrumen lindung nilai terhadap ketidakpastian kebijakan moneter dan fiskal global.

Pelaku pasar kini menanti perkembangan lanjutan terkait kebijakan perdagangan global, arah suku bunga bank sentral utama, serta stabilitas pasar obligasi internasional. Faktor-faktor tersebut diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya dalam jangka pendek hingga menengah. (Sn)

Scroll to Top