Makassar|EGINDO.co Tim SAR gabungan berhasil menemukan black box pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, pada Rabu (21/1). Dua komponen perekam penerbangan—Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR)—dalam kondisi utuh dan kini telah diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk dianalisis lebih lanjut.
FDR menyimpan data teknis penerbangan seperti ketinggian, kecepatan, arah, dan performa mesin, sedangkan CVR merekam percakapan di kokpit dan komunikasi awak pesawat. Data dari kedua perangkat ini dinilai sangat krusial untuk merekonstruksi tahapan sebelum kecelakaan.
Menurut Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin Kolonel Infanteri Dody Triyo Hadi, black box ditemukan sekitar pukul 11.00 WITA, menempel di bagian ekor pesawat dan berada di tebing dengan kedalaman sekitar 150 meter dari puncak gunung. Sebelumnya diperkirakan kedalamannya sekitar 131 meter.
“Black box berhasil dilepas dari dudukannya, kemudian dibawa turun menuju posko SAR gabungan di Desa Tompobulu untuk kemudian diserahterimakan kepada KNKT,” ujar Dody.
Pesawat ATR 42-500 PK-THT milik PT Indonesia Air Transport (IAT) hilang kontak pada 17 Januari 2026 saat terbang dari Yogyakarta ke Makassar dengan 11 orang di dalamnya, termasuk awak pesawat dan tiga pejabat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang melaksanakan tugas pengawasan laut.
Tim SAR gabungan sejak itu telah menemukan berbagai puing pesawat dan barang pribadi korban, seperti dokumen, jam tangan pintar, dan perangkat elektronik lain di lokasi kecelakaan.
Operasi pencarian di medan ekstrem Gunung Bulusaraung juga telah menghasilkan penemuan sejumlah korban jiwa yang dievakuasi secara bertahap oleh tim SAR.
Sebelum ditemukannya black box, KNKT menyatakan bahwa penyebab jatuhnya ATR 42-500 belum dapat dipastikan dan menunggu data dari perekam penerbangan.
Berdasarkan pernyataan resmi, insiden ini diklasifikasikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yakni kecelakaan di mana pesawat yang masih dalam kendali terbang menabrak permukaan tanah atau pegunungan secara tak disengaja.
Temuan black box ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam penyelidikan untuk mengungkap kronologi detik-detik sebelum pesawat menabrak Gunung Bulusaraung, serta memetakan faktor teknis atau lingkungan yang berkontribusi pada tragedi ini.
Kejadian ini kembali menjadi sorotan publik karena melibatkan pesawat patroli yang membawa pejabat pemerintah dalam rangka operasi laut nasional, serta menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan navigasi di wilayah pegunungan Sulawesi yang rawan cuaca buruk dan medan sulit.
Pemerintah dan otoritas terkait menegaskan komitmen untuk mengungkap fakta secara transparan melalui proses investigasi yang akan dipimpin oleh KNKT, dengan dukungan data yang terekam dalam black box yang kini telah diamankan. (Sn)