Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan stabilitas yang terjaga dalam Transaksi Bank Indonesia (BI) per 22 Januari 2026. Data resmi Bank Indonesia mencatat kurs jual dolar AS berada di Rp17.047,81 per USD, sementara kurs beli berada di level Rp16.878,19 per USD. Pergerakan ini mencerminkan kecenderungan penguatan tipis rupiah setelah sejumlah tekanan pasar dalam beberapa hari terakhir.
Menurut data kurs yang dirilis oleh Bank Indonesia, rupiah berada dalam kisaran tersebut seiring respons pasar terhadap keputusan moneter domestik dan sentimen global yang masih bergejolak.
Pergerakan rupiah belakangan ini masih dipengaruhi oleh dinamika global dan domestik. Pada pekan lalu, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terlemah secara historis di sekitar Rp16.985 per USD, di tengah kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral dan arah kebijakan fiskal Indonesia. Kekhawatiran ini muncul setelah adanya dinamika penunjukan calon pimpinan di Bank Indonesia yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi campur tangan politik dalam kebijakan moneter.
Bank Indonesia telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen dalam rapat Dewan Gubernur terbaru, sejajar dengan proyeksi pasar bahwa langkah tersebut dimaksudkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, otoritas moneter juga memperkuat intervensi di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas kurs. Bank Indonesia menegaskan siap menggunakan cadangan devisa yang memadai untuk stabilisasi rupiah, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan arus keluar modal. Gubernur BI menyatakan bahwa langkah-langkah tersebut dilakukan untuk menjaga volatilitas dan tetap memperkuat fundamental perekonomian domestik dalam jangka menengah.
Investor domestik dan pelaku pasar kini lebih berhati-hati dalam menentukan posisi mereka, dengan fokus pada hasil keputusan suku bunga Bank Indonesia dan data ekonomi makro yang akan dirilis. Sementara itu, rupiah yang berada di bawah tekanan sebagian besar dipengaruhi oleh arus modal keluar dan sentimen global yang masih bergejolak, termasuk perkembangan suku bunga global dan dinamika geopolitik.
Dengan kebijakan moneter yang relatif stabil dan strategi stabilisasi yang semakin diperkuat, BI terus menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. (Sn)