Harga Bijih Besi Tertekan, Analis Nilai Pasar Mulai Masuki Fase Penyesuaian Baru

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Harga bijih besi global kembali melemah seiring perubahan fundamental pasar yang semakin nyata. Kontrak berjangka bijih besi tercatat turun 2,3 persen ke level US$103,95 per ton, menyusul konfirmasi pemerintah China terkait penurunan produksi baja nasional serta meningkatnya pasokan dari tambang-tambang baru di Afrika.

Analis komoditas global menilai pelemahan ini mencerminkan fase penyesuaian struktural di pasar bijih besi, terutama akibat menyusutnya permintaan dari China sebagai konsumen utama. Sepanjang 2025, produksi baja China tercatat turun lebih dari 4 persen, sejalan dengan perlambatan sektor properti, pengetatan standar lingkungan, serta kebijakan efisiensi kapasitas industri.

Menurut analis senior pasar komoditas, penurunan permintaan dari China bukan lagi bersifat siklis semata, melainkan mulai menunjukkan karakter pergeseran jangka menengah. “China tidak lagi menjadi sumber pertumbuhan agresif bagi permintaan bijih besi seperti satu dekade lalu. Fokus pada kualitas pertumbuhan dan pengendalian emisi membuat konsumsi bahan baku menjadi lebih terkendali,” ujar seorang analis.

Di sisi lain, tekanan harga semakin kuat akibat bertambahnya pasokan global. Sejumlah proyek tambang baru di Afrika mulai beroperasi dan menambah suplai ke pasar internasional, menciptakan kondisi pasokan yang lebih longgar. Analis menilai ekspansi produksi di luar pemain tradisional seperti Australia dan Brasil berpotensi mengubah peta persaingan dan memperpanjang periode tekanan harga.

Meski demikian, analis memperkirakan harga bijih besi masih akan bertahan di atas level psikologis US$100 per ton dalam jangka pendek, ditopang oleh biaya produksi yang relatif tinggi dan permintaan residual dari sektor infrastruktur. Namun, ruang kenaikan dinilai semakin terbatas jika tidak ada katalis kuat dari pemulihan ekonomi China.

Ke depan, pasar bijih besi diperkirakan bergerak lebih selektif dan sensitif terhadap data produksi baja China, kebijakan industri hijau, serta perkembangan pasokan global. Dalam lanskap baru ini, analis menilai volatilitas akan tetap tinggi, dengan risiko tekanan harga yang cenderung lebih dominan dibandingkan potensi penguatan. (Sn)

Scroll to Top