Airlangga: Risiko Resesi Indonesia Rendah, Fondasi Ekonomi Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

Jakarta|EGINDO.co Di tengah perlambatan ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik, pemerintah menegaskan bahwa fundamental perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang solid. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa tingkat risiko resesi Indonesia dinilai lebih rendah dibandingkan sejumlah negara besar, seperti Amerika Serikat, China, dan Jepang.

Dalam forum IBC Business Outlook 2026 yang berlangsung pada Rabu malam (14/1/2026), Airlangga mengungkapkan bahwa ketahanan ekonomi nasional tercermin dari konsistensi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen selama tujuh tahun terakhir. Capaian tersebut menunjukkan kekuatan struktural ekonomi Indonesia di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

Stabilitas makroekonomi juga tetap terjaga dengan inflasi yang berada pada level terkendali. Di sisi pasar keuangan, kinerja positif tercermin dari pergerakan indeks saham yang terus menguat, nilai tukar rupiah yang relatif stabil, serta aktivitas sektor riil yang masih ekspansif. Kondisi ini diperkuat oleh indikator PMI manufaktur dan indeks kepercayaan konsumen yang berada di zona optimistis.

Dari sektor eksternal, Indonesia masih ditopang surplus neraca perdagangan dan posisi cadangan devisa yang kuat. Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan yang mendekati dua digit serta meningkatnya aliran investasi asing langsung mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perekonomian nasional.

Airlangga menegaskan bahwa pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap dijalankan secara pruden dan bertanggung jawab. Defisit fiskal dijaga dalam batas aman, sementara rasio utang tetap terkendali. Untuk menjaga momentum pertumbuhan dan daya beli masyarakat, pemerintah telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp110,7 triliun sepanjang 2025.

Memasuki 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen yang akan didorong melalui penguatan sektor riil, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan ketahanan pangan dan energi. Selain itu, kebijakan fiskal juga diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui program pendidikan, perlindungan sosial, dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.

“Di tengah ketidakpastian global akibat perlambatan ekonomi dan meningkatnya tensi geopolitik, ekonomi Indonesia tetap resilien dengan tingkat risiko resesi yang relatif rendah dibandingkan Amerika Serikat, China, dan Jepang,” ujar Airlangga. Ia menambahkan, berbagai indikator tersebut menjadi dasar optimisme bahwa perekonomian nasional tetap berada pada jalur pertumbuhan yang berkelanjutan. (Sn)

 

Scroll to Top