Jakarta|EGINDO.co Harga emas batangan pada Kamis, 15 Januari 2026, kembali menunjukkan tren penguatan. Berdasarkan pembaruan harga yang dirilis pada pukul 08.30 WIB, logam mulia masih bertahan sebagai salah satu instrumen lindung nilai (safe haven) utama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan.
Untuk emas batangan reguler, harga 1 gram dibanderol sebesar Rp2.675.000, atau Rp2.681.688 setelah dikenakan pajak PPh 0,25%. Sementara itu, emas ukuran 0,5 gram dijual seharga Rp1.387.500, dengan harga setelah pajak mencapai Rp1.390.969. Adapun emas ukuran besar, seperti 100 gram, tercatat di level Rp261.712.000 atau Rp262.366.280 setelah pajak, sedangkan emas 1.000 gram dipasarkan seharga Rp2.615.600.000, atau Rp2.622.139.000 setelah pajak.
Kenaikan harga juga tercermin pada emas batangan edisi khusus, yang umumnya dibanderol lebih tinggi karena nilai estetika dan segmentasi pasarnya. Gift Series ukuran 1 gram dijual seharga Rp2.825.000, sementara edisi Selamat Idul Fitri ukuran 5 gram mencapai Rp13.985.000. Untuk seri tematik lainnya, seperti Emas Batangan Imlek, ukuran 8 gram dibanderol Rp22.254.800, dan ukuran 88 gram mencapai Rp242.097.600. Sementara itu, Emas Batangan Batik Seri III ukuran 10 gram dan 20 gram masing-masing dijual seharga Rp27.250.000 dan Rp53.700.000.
Secara ekonomi, pergerakan harga emas yang cenderung menguat mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset aman, seiring masih tingginya ketidakpastian global, penguatan dolar AS, serta dinamika kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia. Di dalam negeri, stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi yang terjaga turut menopang minat masyarakat terhadap emas sebagai instrumen penyimpan nilai jangka menengah dan panjang.
Analis menilai, selama sentimen global masih diwarnai risiko geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global, harga emas berpotensi tetap bergerak stabil hingga menguat, baik sebagai aset investasi maupun lindung nilai terhadap inflasi.
Harga emas dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar global dan nilai tukar. Oleh karena itu, investor dan masyarakat diimbau untuk terus mencermati perkembangan ekonomi makro sebelum mengambil keputusan investasi. (Sn)