Medan | EGINDO.com – Pincalang, Bapisah Bukannyo Bacarai, merupakan cerita tentang kawasan dan urang (Orang) Pasisi yang kini lokasinya dilanda banjir bandang dan longsor. Pincalang, perahu tradisional yang dikenal pada masyarakat Pasisi. Pincalang bukan sekadar perahu yang berada di laut lepas akan tetapi kehidupan manusia yang berada hidupnya di atas perahu yang disebut Pincalang.
Pincalang sebuah judul novel yang ditulis oleh Idris Pasaribu, putra Sibolga Provinsi Sumatera Utara (Sumut) itu telah beredar di Indonesia dan laris manis sehingga pada Januari 2026 ini novel Pincalang dicetak ulang. “Ya, dicetak ulang karena banyak permintaan akan novel Pincalang yang menggambarkan tentang kehdupan manusia perahu pada zaman dahulu di kawasan Tapanui Tengah,” kata Idris Pasaribu pada Sabtu (3/1/2026) kepada EGINDO.com di Medan.
Hal yang menarik disamping Novel Pincalang yang dicetak ulang karena banyak yang menginginkannya sebab sebuah novel sejarah yang penuh dengan cerita masa lalu kehidupan masyarakat perahu yang kini sudah tidak ditemukan lagi di kawasan Pasisi, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Sibolga Provinsi Sumatera Utara.
“Novel berjudul Bapisah Bukannyo Bacarai, juga cerita tentang Pasisi yang menceritakan tentang sepasang anak manusia di Kota Sibolga yang mana kala itu Kota Sibolga yang indah dan asri karena alamnya yang memesona juga asri kerena ditumbuhi berbagai jenis tanaman buah-buahan maka banyak yang rindu datang ke Kota Sibolga karena buah-buah yang enak,” kata Idris Pasaribu.

Novel berjudul Bapisah Bukannyo Bacarai kisah yang ditulis Idris Pasaribu: Masa Remaja RIS dan Sia sepasang remaja suka naik perahu mancing sampai ke pincang ketek yang banyak ikan warna warni dari pantai Ketapang yang penuh dengan pohon kelapa.
Kemudian mereka suka naik gunung, mulai dari Dolok Simarbarimbing mengambil berbagai buah buahan dengan gratis. Pernah pula beberapa kali naik gunung dari Sibolga Julu dan turun di hulu sungai sarudik, serta singgah sebentar di puncak tangga saratus, yang setiap bulan puasa dari puncak tangga saratus itu berbunyi sirene pertanda Imsak dan buka puasa. Beberapa kali pula RIS dan Sia, berjalan menyusuri gunung dari Sibolga Julu dan turun di Huta na Godang Tukka bahkan sampai ke kawasan Batara di Sipan dan Sihaporas.
Penulis Novel Idris Pasaribu berhasil menggambarkan bagaimana sepasang remaja masih SMA, boleh mengambil berbagai buah buahan secara gratis. Kapundung, Langsat hutan, buah Malaka, jantiran, durian, jambu monyet di cubadak hutan dan sebagainya.
Kisah yang ditulis Idris Pasaribu dalam novel Bapisah Bukannyo Bacarai dimana Idris Pasaribu bukan menghayal akan tetapi memotret, menuliskan kondisi alam Kota Sibolga kala itu masih sebagai ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah yang masih memiliki betapa lebatnya hutan yang mereka lintasi dengan pohon kayu raksasa, bahkan beberapa kali pula mereka mendengar suara Aum Harimau.
Harimau Tapanuli, memang habitatnya ada di Tapanuli Tengah, Dairi dan Pakpak. Apa yang digambarkan dalam buku novel Bapisah Bukannyo Bacarai itu kini menjadi kawasan yang hancur luluh lantak pada Bencana Banjir Bandang dan tanah longsong pada akhir tahun 2025 ini.
Kini sudah hancur dilanda bencana. Namun, jika ingin mengetahui bagaimana kondisi hutan di Kota Sibolga telah ditulis dalam buku novel Bapisah Bukannyo Bacarai oleh Idris Pasaribu. Tentunya hanya ada dalam cerita yang ditulis dalam bentuk novel. Kondisi alam dan hutan Kota Sibolga sesungguhnya kini hanya tinggal kenangan.@
Rel/fd/timEGINDO.com