Jakarta|EGINDO.co Pemerintah menegaskan kembali komitmennya dalam menjaga keberlanjutan pendidikan tinggi bagi mahasiswa yang terdampak bencana alam di wilayah Sumatera. Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga memberikan dampak serius terhadap dunia pendidikan. Berdasarkan pendataan resmi, sebanyak 60 perguruan tinggi tercatat mengalami dampak, mulai dari kerusakan fasilitas hingga terganggunya sarana penunjang akademik.
Sebagai respons cepat, pemerintah memastikan bahwa 15.833 mahasiswa yang terdampak akan memperoleh bantuan biaya hidup sebesar Rp1.250.000 per bulan. Dukungan ini disalurkan melalui Program Indonesia Pintar (PIP) sebagai jaring pengaman agar para mahasiswa tetap dapat menjalani pendidikan tinggi tanpa terhambat tekanan ekonomi pascabencana.
Kebijakan tersebut diungkapkan oleh Direktur Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman, dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI yang digelar di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Senin (8/12/2025). Dalam paparannya, Fauzan menegaskan bahwa negara harus hadir untuk memastikan hak pendidikan setiap mahasiswa tetap terjamin, terlebih saat mereka berada dalam situasi sulit akibat bencana.
Selain penyaluran bantuan biaya hidup, pemerintah juga tengah berkoordinasi dengan perguruan tinggi terkait pemulihan fasilitas serta penyediaan dukungan akademik bagi mahasiswa yang membutuhkan. Upaya-upaya seperti perbaikan ruang kuliah, penguatan layanan konseling, serta penyesuaian metode pembelajaran sementara menjadi bagian dari langkah mitigasi agar kegiatan akademik dapat kembali berjalan secara bertahap.
Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap proses pemulihan pendidikan di wilayah terdampak dapat berlangsung cepat dan efektif. Negara memastikan bahwa musibah yang terjadi tidak mematahkan asa ribuan mahasiswa Sumatera untuk tetap melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik. (Sn)