Jakarta|EGINDO.co DKI Jakarta kembali mencatatkan capaian bersejarah melalui pembangunan terowongan bawah tanah bertingkat (stacked tunnel) pertama dan terdalam di Indonesia pada proyek MRT Jakarta Fase 2A, khususnya di lintasan Sawah Besar–Mangga Besar. Inovasi desain ini dipilih karena keterbatasan ruang di koridor Gajah Mada—salah satu kawasan paling padat utilitas—sehingga dua jalur MRT tidak dapat dibangun berdampingan, melainkan ditumpuk secara vertikal hingga mencapai kedalaman sekitar 28 meter di bawah permukaan tanah.
Pembangunan terowongan ini dilakukan menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM) berdiameter besar yang sebelumnya juga digunakan pada proyek MRT Fase 1. Dua mesin—TBM 1 dan TBM 2—diturunkan untuk menggali terowongan sepanjang 390 meter dari Stasiun Harmoni menuju Sawah Besar, dan dilanjutkan sejauh 790 meter ke Stasiun Mangga Besar. Berdasarkan jadwal, TBM 1 ditargetkan menuntaskan seluruh penggalian pada Juni 2026, sedangkan TBM 2 pada September 2026.
Mesin bor raksasa yang dipasok oleh Kawasaki Heavy Industries ini mampu bekerja dengan kecepatan 7,5 hingga 8 meter per hari. Pemilihannya disesuaikan dengan karakteristik geologi di sepanjang jalur fase 2A, sehingga penggalian dapat berlangsung stabil dan aman di kawasan dengan tanah campuran pasir, lempung, serta kedekatan terhadap bangunan-bangunan eksisting.
Proyek MRT Jakarta Fase 2A sendiri menjadi salah satu pembangunan infrastruktur transportasi paling kompleks di Indonesia. Rangkaian konstruksi ini akan menghubungkan Bundaran HI hingga Kota, membawa sistem angkutan massal modern semakin dekat ke pusat sejarah dan kawasan perdagangan tertua di Jakarta. Seluruh proyek ditargetkan rampung pada 2029.
Kehadiran terowongan bertingkat terdalam ini bukan sekadar pencapaian teknis, tetapi juga simbol kemajuan teknologi konstruksi perkotaan Indonesia. Dengan hadirnya MRT yang terus berkembang, Jakarta bergerak menuju moda transportasi publik yang lebih terintegrasi, efisien, dan berkelanjutan. (Sn)