Jakarta|EGINDO.co Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem pada periode menuju puncak musim hujan. Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyampaikan bahwa pemerintah daerah perlu mengambil langkah antisipatif, termasuk mengajukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebelum bencana hidrometeorologi terjadi.
Menurut BMKG, peringatan dini selalu dikirimkan apabila terpantau indikasi hujan sangat lebat dengan akumulasi lebih dari 150 mm. Namun, pelaksanaan OMC hanya dapat dijalankan apabila terdapat permintaan resmi dari pemerintah daerah serta wilayah berada dalam status siaga bencana.
Saat ini, pola cuaca di Indonesia dipengaruhi oleh dua bibit siklon yang meningkatkan potensi hujan intensitas tinggi. Risiko cuaca ekstrem juga mengalami pergeseran dari wilayah Jawa Barat menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Daerah dengan jumlah penduduk besar menjadi fokus utama upaya mitigasi.
Peristiwa tanah longsor di Majenang, Cilacap, pada 13 November 2025 mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta BMKG melaksanakan OMC guna menekan curah hujan di wilayah terdampak. Operasi tersebut dilaksanakan pada 15–20 November dan dinyatakan berhasil menurunkan intensitas hujan selama masa penanganan.
BMKG berharap pemerintah daerah dapat memberikan respons lebih cepat pada masa mendatang agar langkah mitigasi dapat dilakukan sejak dini, sehingga dampak bencana dapat diminimalkan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga. (Sn)