Mentan Amran Apresiasi Lompatan Teknologi Alsintan, Dorong Transformasi Menuju Pertanian Modern

Mentan Amran berkesempatan meninjau sekaligus menjajal performa langsung MUD MAX.
Mentan Amran berkesempatan meninjau sekaligus menjajal performa langsung MUD MAX.

Serpong, Tangerang|EGINDO.co Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya terhadap kemajuan pesat teknologi alat dan mesin pertanian (alsintan) di Indonesia. Salah satu inovasi yang menjadi kebanggaan nasional adalah Combine Harvester – MUD MAX, hasil rancangan dan pengembangan Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) yang berlokasi di Serpong, Tangerang.

Dalam kunjungannya pada Senin (3/11/2025), Mentan Amran berkesempatan meninjau sekaligus menjajal performa langsung MUD MAX. Ia menegaskan bahwa modernisasi pertanian merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional yang tengah diwujudkan pemerintah.

“Kita sedang melakukan transformasi besar dari pertanian tradisional menuju pertanian modern. Kita manfaatkan drone untuk pemupukan dan penanaman, kita terapkan precision agriculture serta smart farming. Dengan teknologi, biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas meningkat,” ujar Amran.

Menurutnya, kemunculan generasi terbaru combine harvester mencerminkan kemajuan nyata mekanisasi pertanian Indonesia. Teknologi tersebut memungkinkan proses panen berlangsung lebih cepat, hemat tenaga, dan akurat, bahkan di lahan berlumpur dengan sistem drainase yang kurang baik.

Berdasarkan data BRMP Mektan, prototipe Combine Harvester – MUD MAX memiliki lebar kerja 2,05 meter, tenaga mesin 100 HP, dan bobot 2.905 kilogram. Dengan tekanan tanah hanya 0,17 kg/cm² dan ground clearance setinggi 480 mm, alat ini mampu bekerja optimal di lahan dengan daya sangga rendah (soil bearing capacity 0,204 kg/cm²).

“Kita berharap pengembangan alat seperti ini terus dilanjutkan. Ke depan, kami ingin menghadirkan versi bertenaga baterai dan berteknologi robotik, bahkan autonomous. Dengan begitu, generasi muda bisa mengelola lahan pertanian dari jarak jauh. Inilah arah pertanian masa depan,” ungkapnya.

Amran menambahkan, pesatnya inovasi juga membuat harga alsintan semakin terjangkau. “Dulu satu unit combine harvester bisa mencapai Rp600 juta, sekarang sudah bisa dibeli dengan harga sekitar Rp300 juta. Sementara rice transplanter yang dulu Rp60 jutaan, kini hanya sekitar Rp10 juta,” jelasnya.

Selain combine harvester, BRMP Mektan juga mengembangkan Mini Transplanter 4 Row, alat tanam padi yang dirancang untuk mempercepat proses tanam di lahan kecil hingga menengah. Alat tersebut telah diuji coba di Lampung Tengah dan mendapatkan sambutan positif dari para petani karena mudah dioperasikan serta efisien dalam penggunaan bahan bakar.

Amran menegaskan bahwa penerapan teknologi canggih menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Ia mencontohkan, pekerjaan menanam padi yang sebelumnya memerlukan 25 tenaga kerja per hektare kini dapat diselesaikan oleh satu operator dalam satu hari berkat mekanisasi modern.

“Efisiensinya luar biasa. Produktivitas meningkat, indeks pertanaman bertambah, sementara biaya produksi menurun. Ini bukti nyata manfaat penggunaan kecerdasan buatan dan sistem robotik di sektor pertanian,” tutur Mentan.

Sebelumnya, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam pidatonya di KTT APEC 2025 di Gyeongju, Korea Selatan, menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras dan jagung hanya dalam waktu satu tahun. Ia menilai capaian tersebut merupakan buah dari transformasi teknologi dan penerapan kecerdasan buatan di sektor pertanian nasional.

“Teknologi dan AI telah membawa Indonesia mencapai tingkat produksi tertinggi sepanjang sejarah kemerdekaan. Ini bukan sekadar keberhasilan pertanian, melainkan kemenangan besar bangsa dalam mewujudkan kedaulatan pangan,” ujar Presiden Prabowo. (Sn)

Scroll to Top