Jakarta | EGINDO.com – Perkembangan tisu memiliki sejarah panjang. Tisu pertama kali diperkenalkan pada tahun 1857 oleh Joseph Gayetty di Amerika Serikat. Bentuk tisu gulungan dan pada 1879 melalui Scott Paper Company, dan sejak saat itu penggunaannya menyebar ke seluruh dunia. Namun, jauh sebelum itu, masyarakat Tiongkok sudah menggunakan kertas untuk keperluan higienis sejak abad ke-6. Dari sinilah ide penggunaan kertas untuk kebersihan berkembang hingga menjadi kebutuhan pokok di era modern.
Sementara itu di Indonesia, industri tisu tumbuh pesat dan dipenuhi berbagai merek ternama. Salah satu yang paling dikenal adalah Tisu Paseo yang merupakan salah satu merek tissue yang sudah banyak dikenal masyarakat. Namun tahukah kamu siap pemilik dari tissue Paseo sendiri?
Melansir dari situs resmi perusahaan, Paseo merupakan merek tissue yang diproduksi oleh Asia Pulp & Paper (APP) Sinarmas dengan produk APP Sinarmas yang sudah dipasarkan lebih dari 150 negara di dunia. Produknya dikenal karena lembut, higienis, dan kuat, terbuat dari 100% serat alami yang diproses dengan teknologi uap bersuhu tinggi untuk menjaga kebersihan dan kualitas terbaiknya. Dengan kualitas yang konsisten dan citra premium, Paseo berhasil menjadi pilihan utama banyak keluarga Indonesia.
Masyarakat Indonesia tentu tidak asing lagi dengan brand tisu Paseo yang kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun tahukah kamu siapa pemiliknya?. Berdasarkan informasi di web resmi Paseo, disebutkan Tisu Paseo merupakan merek yang diproduksi oleh Asia Pulp & Paper (APP) Sinarmas. Jadi bisa disimpulkan bahwa pemilik Sinar Mas juga merupakan pemilik Paseo.
Adapun pendiri Sinar Mas adalah Eka Tjipta Widjaja yang masuk ke dalam daftar konglomerat Indonesia. Dia adalah seorang imigran Tionghoa ke Indonesia yang masa remajanya dipenuhi dengan kerja keras. Dia merantau ke Indonesia tepatnya Makasar, Sulawesi Selatan, saat berumur 9 tahun. Setibanya di Indonesia, Eka lebih memilih membantu ayahnya yang memiliki toko kelontong kecil untuk berjualan. Dia kemudian memutuskan untuk berjualan biskuit keliling.
Keuntungannya dalam menjalankan berjualan biskuit dialokasikan untuk membeli sepeda sebagai sarana transportasi saat berjualan biskuit keliling. Selain itu, dia juga mengumpulkan keuntungan untuk merenovasi rumah orang tuanya. Jatuh bangun dilaluinya dengan semangat. Bahkan dia juga menjalankan berbagai ide bisnis. Setelah kepindahannya ke Surabaya, dia kemudian mulai membangun Sinarmas.
Berkat kerja kerasnya, Eka Tjipta Widjaja dan keluarga berhasil membawa Sinarmas menjadi salah satu grup konglomerat di Indonesia dengan berbagai jaringan bisnis, mulai dari Pulp dan Kertas, Agribisnis dan Food, Jasa Keuangan, Developer dan Real Estate, Telekomunikasi, Energi dan Infrastruktur, bahkan Kesehatan dan Pendidikan.
Eka Tjipta Widjaja dan keluarga juga masuk ke dalam Daftar 50 Orang Terkaya di Indonesia versi Forbes tahun 2018 di peringkat 3 dengan harta kekayaan bersih sebanyak 8,6 miliar dolar AS atau setara Rp134.2 triliun. Eka Tjipta Widjaja tutup usia pada Januari 2019 lalu, kini bisnis yang telah dibangun Eka dilanjutkan oleh anak-anaknya.@
Bs/fd/timEGINDO.com