Energi Nuklir Bisa Jadi Jalan Menuju Kemandirian Energi ASEAN

Ilustrasi Energi Nuklir
Ilustrasi Energi Nuklir

Singapura | EGINDO.co – Tenaga nuklir dapat berperan dalam membantu negara-negara Asia Tenggara mencapai kemandirian energi, kata Dr. Sama Bilbao y Leon, Direktur Jenderal Asosiasi Nuklir Dunia.

Berbicara kepada CNA di sela-sela Pekan Energi Internasional Singapura (SIEW) pada hari Selasa (28 Oktober), Bilbao y Leon mengatakan bahwa langkah ke depan bagi negara-negara ini untuk memanfaatkan energi nuklir terletak pada pembangunan fondasi yang tepat.

Ini mencakup kerangka regulasi dan sistem hukum, serta mekanisme pembiayaan yang mendukung rantai pasokan dan tenaga kerja terampil.

Ia menambahkan bahwa rantai pasokan global, pengetahuan, dan keahlian industri ini seharusnya dapat meyakinkan negara-negara bahwa “kemandirian energi yang kita semua coba capai akan lebih mudah dicapai dengan nuklir”.

Ambisi Regional

Saat ini belum ada reaktor nuklir yang beroperasi di Asia Tenggara, tetapi negara-negara seperti Filipina dan Indonesia telah menetapkan target untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir pada awal tahun 2030-an.

Malaysia, Thailand, dan Singapura juga sedang mempelajari potensi tenaga nuklir, khususnya melalui penggunaan reaktor modular kecil (SMR).

Ringkas dan skalabel, SMR berukuran sangat kecil dibandingkan reaktor nuklir konvensional, dan dapat dibuat terlebih dahulu untuk memudahkan transportasi dan pemasangan.

Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA) pada tahun 2024, pangsa Asia dalam pembangkit listrik tenaga nuklir global dapat mencapai 30 persen pada tahun 2026.

Rencana Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk membangun jaringan listrik lintas batas senilai US$100 miliar pada tahun 2045 menawarkan fondasi untuk berbagi energi nuklir yang andal di seluruh kawasan, kata Bilbao y Leon.

Ia mendesak negara-negara ASEAN untuk belajar dari pemain nuklir Asia yang lebih mapan seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Jepang, misalnya, sedang mempercepat upaya untuk menghidupkan kembali reaktor yang ada guna memenuhi kebutuhan energinya, kata Bilbao y Leon. Korea Selatan mengekspor teknologi dan pengalaman operasional tenaga nuklirnya.

Tiongkok memiliki banyak pembangkit listrik tenaga nuklir yang sedang dibangun, dan secara aktif mendukung proyek-proyek nuklir di luar negeri, termasuk di Pakistan, tambahnya.

Negara-negara ini akan “sangat senang” berbagi pengalaman mereka dengan negara-negara ASEAN, ujarnya.

Opsi Nuklir Singapura

Ketika ditanya tentang persyaratan keselamatan yang dibutuhkan agar tenaga nuklir dapat memasuki bauran energi di Singapura, Bilbao y Leon mengatakan bahwa negara tersebut harus memenuhi konvensi dan standar keselamatan internasional, mulai dari desain pembangkit hingga pemeliharaan.

Namun, ia menambahkan bahwa pengalaman operasional selama puluhan tahun telah membuat reaktor saat ini lebih aman dan efektif.

Mengenai SMR, ia mengatakan bahwa reaktor terapung di lepas pantai Singapura dapat dengan cepat dipasang dan “dihubungkan ke” jaringan listrik.

Meskipun pembiayaan proyek energi nuklir masih menjadi tantangan, ia menyoroti bahwa kemitraan publik-swasta, yang terlihat di tempat-tempat seperti Inggris Raya, membuat sektor ini lebih menarik bagi investor.

Menurut laporan Asosiasi Nuklir Dunia 2025, reaktor nuklir di seluruh dunia menghasilkan rekor listrik sebesar 2.667 TWh (terawatt-jam) pada tahun 2024. Saat ini terdapat 70 reaktor yang sedang dibangun di seluruh dunia.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top