Setahun Pemerintahan Prabowo, Pasar Saham RI Melesat: Emiten Bertambah, Kapitalisasi Pasar Mengembang

Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto

Jakarta|EGINDO.co Pasar modal Indonesia menunjukkan kinerja impresif dalam satu tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah perusahaan tercatat (emiten) di Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat sebanyak 17 emiten, dari 938 menjadi 955 perusahaan. Kenaikan ini seiring dengan tingginya minat perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana saham (IPO).

Dalam kurun waktu tersebut, terdapat 28 perusahaan yang resmi melantai di BEI melalui IPO. Namun, sebagian emiten juga mengalami delisting akibat berbagai faktor, seperti tidak terpenuhinya ketentuan bursa.

Kinerja penambahan emiten pada tahun pertama Prabowo lebih tinggi dibandingkan dengan dua pendahulunya. Di masa awal pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), tepatnya periode 2014–2015, jumlah emiten hanya bertambah 15 perusahaan, dari 506 menjadi 521. Sedangkan pada periode awal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2009–2010, peningkatannya lebih kecil, yakni hanya 5 perusahaan, dari 331 menjadi 336 emiten.

Kapitalisasi Pasar Naik Signifikan

Selain dari sisi jumlah emiten, kapitalisasi pasar (market capitalization) saham Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan kuat. Dalam setahun kepemimpinan Prabowo, nilai kapitalisasi pasar meningkat Rp2.626,38 triliun atau 21,41%, dari Rp12.263,62 triliun menjadi Rp14.890 triliun.

Sebagai pembanding, pada tahun pertama pemerintahan Jokowi, kenaikannya hanya sebesar Rp431,24 triliun atau 8,99%. Sementara di masa SBY, kenaikan kapitalisasi pasar mencapai Rp121 triliun atau 17,79%.

Menurut laporan CNBC Indonesia, pertumbuhan kapitalisasi pasar di era Prabowo turut ditopang oleh optimisme investor terhadap prospek ekonomi nasional, terutama dengan kebijakan hilirisasi industri dan peningkatan belanja infrastruktur yang memberikan dorongan positif bagi kinerja emiten di sektor energi dan manufaktur.

IHSG dan Likuiditas Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat peningkatan sebesar 3,71% dalam setahun, dari level 7.772,6 menjadi 8.061,06. Sebaliknya, pada tahun pertama Jokowi IHSG justru melemah 9,02%, sedangkan di masa SBY melonjak 27,9%.

Dari sisi likuiditas perdagangan, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) naik 20,54% menjadi Rp15,49 triliun, dibandingkan setahun sebelumnya sebesar Rp12,85 triliun. Kondisi ini menunjukkan aktivitas investor yang semakin dinamis di bursa.

Sebagai perbandingan, RNTH di masa awal Jokowi turun 4%, sedangkan di era SBY justru tumbuh pesat hingga 63,72%.

Target BEI hingga 2029

Direktur Utama BEI Iman Rachman mengungkapkan bahwa bursa menargetkan 1.200 emiten tercatat pada 2029, atau bertambah 245 perusahaan hingga akhir masa jabatan Presiden Prabowo. “Namun, bukan hanya kuantitas, kualitas perusahaan yang tercatat juga menjadi perhatian utama,” ujarnya, dikutip dari Kontan.co.id.

Selain itu, BEI juga menargetkan kapitalisasi pasar mencapai Rp20.000 triliun dan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp20 triliun pada 2029. Iman optimistis target tersebut sejalan dengan visi pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8%, didukung oleh pendalaman pasar modal dan peningkatan peran investor domestik.

Disclaimer:
Berita ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Media tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi individu.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Scroll to Top