Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada pembukaan perdagangan Kamis (23/10/2025). Data Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah di pasar spot tertekan sebesar 0,23% dan berada di posisi Rp16.623 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS menguat sekitar 0,13% ke level 99,02.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang muncul secara bervariasi: yen Jepang melemah 0,30 %, dolar Hong Kong menguat tipis 0,02 %, dolar Singapura turun 0,12 %, dolar Taiwan 0,16 %, dan won Korea Selatan tertekan 0,30 %. Sedangkan peso Filipina melemah 0,30 %, rupee India naik 0,05 %, yuan China menguat 0,01 %, ringgit Malaysia turun 0,04 % dan baht Thailand melemah 0,14 %.
Sentimen Global dan Domestik
Penguatan dolar AS dipicu oleh meningkatnya kewaspadaan pasar menjelang rilis data inflasi konsumen AS yang tertunda, serta isu menguat tentang pembatasan ekspor AS ke China. Ketegangan dagang antara AS dan China kembali menjadi sorotan, dengan rencana AS yang mempertimbangkan pembatasan teknologi ekspor termasuk laptop hingga mesin jet sebagai balasan atas pembatasan ekspor logam tanah jarang oleh Beijing. Hal ini memastikan bahwa dolar AS tetap menjadi pilihan “safe-haven” di tengah ketidakpastian global.
Dari dalam negeri, langkah Bank Indonesia (BI) yang pada Rapat Dewan Gubernur (21-22 Oktober 2025) memutuskan menahan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 4,75%, serta mempertahankan suku bunga deposit facility di 3,75% dan lending facility di 5,50%, juga ikut memberi sinyal bahwa otoritas tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi yang dalam proyeksi masih terkendali di kisaran target 2,5 % ± 1%.
Pengamat memandang bahwa rupiah berpeluang ditutup melemah pada rentang Rp16.580 hingga Rp16.610 per dolar AS, seiring dengan tekanan global dan posisi dolar yang masih menguat.
Sumber: Bisnis.com/Sn