Uni Eropa Rancang Batasan Harga untuk Pasar Karbon Baru Mulai 2027

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Uni Eropa tengah mempersiapkan aturan pembatasan harga pada pasar karbon terbarunya sebagai langkah antisipatif terhadap kekhawatiran sejumlah pemerintah negara anggota yang menilai kebijakan pengurangan emisi dapat menambah beban biaya energi masyarakat. Rancangan kebijakan ini terungkap dalam surat resmi yang dilihat oleh Reuters dan dikonfirmasi melalui laporan Bloomberg.

Sistem baru tersebut, yang dikenal sebagai Emissions Trading System 2 (ETS2), akan mulai diberlakukan pada tahun 2027. Skema ini menetapkan harga karbon bagi emisi yang berasal dari bahan bakar transportasi dan pemanas rumah tangga. Uni Eropa menilai kebijakan tersebut penting untuk mempercepat peralihan menuju kendaraan listrik dan sistem pemanas yang lebih ramah lingkungan.

Pendapatan dari pasar karbon baru ini direncanakan digunakan untuk mendukung transisi energi bersih, antara lain dengan membantu masyarakat berpenghasilan rendah membayar tagihan energi, memberikan subsidi kendaraan listrik, serta membiayai renovasi bangunan agar lebih hemat energi.

Namun, sejumlah negara anggota, termasuk Jerman, Prancis, dan Republik Ceko, meminta agar Komisi Eropa menerapkan mekanisme pengendalian harga yang lebih ketat. Mereka khawatir volatilitas harga karbon dapat menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang besar, terutama jika harga bahan bakar melonjak.

Dalam surat tanggapan bertanggal 21 Oktober, Komisioner Iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra menyampaikan bahwa ia memahami kekhawatiran tersebut. Ia menjelaskan bahwa Uni Eropa akan menambahkan izin emisi ke pasar jika harga karbon mencapai 45 euro per ton, sebagai upaya menjaga kestabilan harga.

Lebih lanjut, Komisi Eropa berencana melipatgandakan jumlah izin tambahan yang dapat dilepas hingga 80 juta unit per tahun pada periode 2027–2029. “Kebijakan ini bertujuan mencegah lonjakan harga yang tidak wajar sekaligus memberikan kepastian bagi investor di sektor dekarbonisasi,” tulis Hoekstra.

Selain itu, Uni Eropa juga akan mempercepat proses lelang izin emisi pada 2026, sehingga negara anggota dapat segera memperoleh dana untuk investasi teknologi bersih dan membantu masyarakat menghadapi masa transisi menuju energi rendah karbon.

Perdana Menteri Republik Ceko, Petr Fiala, menyambut baik langkah Uni Eropa dalam menstabilkan harga, tetapi tetap menyerukan agar peluncuran ETS2 ditunda demi mencegah potensi kenaikan biaya hidup.

Para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan membahas target iklim blok tersebut untuk tahun 2040 dalam pertemuan tingkat tinggi (KTT) pada Kamis mendatang. Agenda pembahasan mencakup mekanisme pembiayaan serta kebijakan pendukung agar dunia usaha dan masyarakat mampu beradaptasi dengan target dekarbonisasi jangka panjang Uni Eropa.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Scroll to Top