Jakarta|EGINDO.co Bursa saham Asia tertekan pada awal perdagangan Jumat (17/10/2025), mengikuti pelemahan di Wall Street yang dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas pasar kredit Amerika Serikat (AS). Mengutip Bloomberg, indeks MSCI Asia-Pacific melemah 0,2%, terutama karena penurunan saham di sektor keuangan.
Koreksi juga terjadi pada kontrak berjangka indeks AS setelah S&P 500 turun 0,6% pada perdagangan sebelumnya, terseret oleh kejatuhan saham-saham perbankan.
Mayoritas indeks utama kawasan Asia pun ikut melemah: Nikkei 225 Jepang turun 0,93%, Topix merosot 0,7%, Shanghai Composite melemah 0,67%, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,17%, dan Straits Times Singapura turun 0,46%. Hanya Kospi Korea Selatan yang mencatat penguatan tipis sebesar 0,07%.
Dari pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS terus menurun. Yield tenor dua tahun jatuh ke posisi terendah sejak 2022, sedangkan yield obligasi 10 tahun menembus di bawah 4%. Reuters melaporkan, indeks dolar AS juga merosot dan menuju pekan terburuknya sejak akhir Juli.
Pelemahan pasar keuangan dipicu oleh kekhawatiran meluasnya dampak kebangkrutan perusahaan pembiayaan mobil subprime Tricolor Holdings, yang menekan sejumlah lembaga keuangan di AS. Saham Zions Bancorp anjlok 13% setelah mencatat kerugian pinjaman sebesar US$50 juta terkait California Bank & Trust, sementara Western Alliance Bancorp turun 11% akibat eksposur pada debitur serupa.
Menurut analis, gejolak ini menandakan meningkatnya tekanan di pasar kredit AS dan menyoroti kerentanan di balik reli saham yang sebelumnya mencapai level tertinggi. Sentimen investor kini dibayangi sejumlah risiko global, termasuk potensi penutupan pemerintahan AS (government shutdown), kekhawatiran akan gelembung di sektor kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok.
Kepala Riset Makro Asia ex-Japan di Mizuho Bank, Vishnu Varathan, mengatakan pelaku pasar kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam menyikapi risiko kredit tersebut. “Investor Asia mungkin akan lebih waspada terhadap potensi dampak dari eksposur lintas kawasan,” ujarnya dikutip Bloomberg.
Dari Jepang, Gubernur Bank of Japan (BoJ) Kazuo Ueda memberikan sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat apabila prospek inflasi dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan penguatan yang lebih solid. Yen pun melanjutkan penguatan terhadap dolar AS untuk hari ketiga berturut-turut.
Sementara itu, seperti dilaporkan CNBC International, Gedung Putih tengah mempertimbangkan pelonggaran tarif impor untuk sektor otomotif—langkah yang dipandang sebagai kabar baik bagi produsen mobil domestik yang selama ini menentang tarif tinggi terhadap komponen impor.
Di sisi kebijakan moneter AS, Gubernur The Federal Reserve Christopher Waller menyebut pihaknya masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga secara bertahap sebesar 25 basis poin guna menjaga stabilitas pasar tenaga kerja. Namun, ekonom Stephen Miran mendesak pemangkasan yang lebih agresif untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi lebih lanjut.
Penutupan sebagian pemerintahan AS juga membuat rilis data inflasi September tertunda, sehingga menyulitkan pelaku pasar dalam menilai urgensi penurunan suku bunga berikutnya. Meski demikian, sebagian besar pejabat The Fed masih memperkirakan adanya dua kali pemangkasan lagi hingga akhir tahun.
Analis eToro, Bret Kenwell, mengatakan dengan minimnya data ekonomi akibat penutupan pemerintahan, perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan korporasi. “Hasil kinerja laba akan menjadi faktor kunci apakah volatilitas pasar dapat mereda atau justru meningkat—dan tentu saja, investor berharap pada skenario yang lebih tenang,” jelasnya.
Sumber: Bisnis.com/Sn