Jakarta|EGINDO.co Harga batu bara di China mulai merangkak naik seiring dengan cuaca yang semakin tidak menentu dan langkah pemerintah memperluas pengawasan terhadap tambang dalam upaya mencegah kecelakaan serta menekan kelebihan produksi.
Menurut data Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China, harga acuan batu bara termal di pelabuhan Qinhuangdao naik menjadi 723 yuan (US$101) per ton pada Rabu (15/10/2025). Padahal, pada Juni 2025 harga sempat anjlok ke posisi terendah dalam empat tahun terakhir, yakni 610 yuan per ton, akibat kelebihan pasokan besar-besaran yang kini coba dikendalikan melalui kampanye “anti-involusi” Beijing.
Meski pasar batu bara masih relatif lemah dibandingkan standar historisnya, langkah pengawasan ketat dari pemerintah menjadi faktor baru yang menahan harga agar tidak turun lebih jauh.
“Upaya ‘anti-involusi’ pemerintah untuk mengurangi kelebihan kapasitas dengan langkah-langkah seperti pemeriksaan keselamatan dapat menjadi norma baru,” tulis Bloomberg Intelligence dalam sebuah catatan, dikutip dari Bloomberg, Kamis (16/10/2025).
Sektor pertambangan kini tengah berada dalam pengawasan ketat menjelang Sidang Pleno Keempat Partai Komunis China di Beijing minggu depan. Pemerintah ingin memastikan tidak terjadi kecelakaan besar yang dapat mengganggu stabilitas sektor energi menjelang pertemuan tersebut.
Selain itu, otoritas pusat juga telah memerintahkan inspektur tingkat tinggi untuk memperkuat pengawasan terhadap praktik keselamatan di seluruh industri pertambangan. Provinsi Shanxi, yang merupakan produsen batu bara terbesar di China, mendapat perhatian khusus karena memiliki catatan keselamatan kerja yang mengkhawatirkan.
Li Xuegang, analis dari Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China, menuturkan bahwa Shanxi dan Shaanxi kini menghadapi tantangan tambahan berupa banjir, yang berpotensi menekan pasokan dalam beberapa bulan mendatang. “Kondisi banjir dapat menghambat aktivitas produksi dan distribusi,” ujar Li.
Sementara itu, impor batu bara diperkirakan melambat karena pengisian stok musim dingin hampir rampung. Ketatnya pasokan diimbangi dengan melimpahnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA) akibat curah hujan tinggi, yang dapat mengurangi permintaan batu bara. Namun, permintaan energi tetap berfluktuasi karena iklim ekstrem.
China kini menghadapi suhu tinggi di wilayah tengah dan timur yang meningkatkan penggunaan pendingin udara, sementara hujan dingin di utara memaksa sejumlah kota menyalakan pemanas lebih awal sekitar satu bulan dari biasanya. Kedua kondisi ini diperkirakan mendorong kenaikan konsumsi batu bara dalam waktu dekat.
“Pasar cenderung bergerak ke arah kenaikan harga, tetapi menentukan level pastinya semakin sulit,” kata Li Xuegang. “Kami memperkirakan kenaikan akan terjadi secara bertahap, namun perkiraan harga bisa sangat bervariasi.”
Menurut Reuters, kombinasi antara pengawasan ketat pemerintah, kondisi cuaca ekstrem, dan permintaan energi yang meningkat menjelang musim dingin menjadi faktor utama yang memperkuat harga batu bara di pasar domestik China.
Sumber: Bisnis.com/Sn