Astra Agro Yakin Prospek Sawit Terus Cerah, Produksi Nasional Sudah Sentuh 55 Juta Ton

ilustrasi buah sawit
ilustrasi buah sawit

Jakarta|EGINDO.co Emiten perkebunan di bawah naungan Grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), menyatakan keyakinannya terhadap masa depan industri minyak kelapa sawit nasional, di tengah permintaan yang terus meningkat dari sektor pangan dan energi.

Menurut Direktur Utama AALI, Djap Tet Fa, hingga saat ini produksi CPO domestik telah mencapai sekitar 55 juta ton. Ia menekankan bahwa lonjakan kebutuhan dari biodiesel dan pangan akan menjadi pendorong utama permintaan di masa mendatang.

Djap menjelaskan, program B40 sebagai kebijakan biodiesel diperkirakan akan menyerap hingga sekitar 16 juta ton CPO. Sementara itu, konsumsi di sektor pangan—termasuk minyak goreng dan produk turunannya—diperkirakan menyerap 36%–38% dari total produksi nasional. Ia menilai bahwa peningkatan permintaan akan terus terjadi seiring pertumbuhan populasi dunia.

Harga CPO Menguat, Saham AALI Merespons Positif

Kenaikan harga CPO turut menjadi sentimen positif bagi emiten sawit. Kontrak CPO pengiriman Desember 2025 tercatat menembus 4.500 ringgit per ton, dan kontrak untuk Januari–Februari 2026 masing-masing berada di kisaran 4.533–4.537 ringgit per ton.

Menurut data Trading Economics, harga minyak sawit naik ke level 4.500 ringgit/ton pada 16 Oktober 2025.

Di pasar saham domestik, harga saham AALI pada perdagangan Kamis (16/10/2025) terpantau menguat 1,91% ke level Rp 8.000, setelah sejak awal tahun mencatat kenaikan sekitar 30,08%.

Replanting dan Akses Ekspor ke Uni Eropa Jadi Strategi Utama

Walaupun harga cenderung volatile, AALI memilih menjaga fokus pada strategi jangka panjang melalui program replanting atau peremajaan tanaman agar produktivitas tetap terjaga. Langkah ini juga dianggap sebagai antisipasi terhadap regulasi sawit berkelanjutan dari Uni Eropa.

Djap melihat bahwa kesepakatan IEU–CEPA (Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement) dapat membuka peluang baru bagi ekspor sawit Indonesia ke pasar Eropa dengan tarif lebih kompetitif. Dengan demikian, keunggulan ekspor bisa menjadi katalis bagi emiten seperti AALI.

Kinerja Keuangan Semester I/2025: Peningkatan Signifikan

Laporan keuangan konsolidasi AALI per 30 Juni 2025 mencerminkan kinerja yang kuat:

  • Pendapatan bersih sebesar Rp 14,44 triliun, naik sekitar 40,07% (YoY) dibanding periode sama tahun lalu.

  • Penjualan CPO dan produknya tumbuh 32,98% menjadi Rp 12,81 triliun.

  • Pendapatan dari produk inti sawit meningkat tajam hingga 149,85% menjadi Rp 1,60 triliun.

  • Beban pokok penjualan melonjak 35,10% menjadi Rp 12,19 triliun.

  • Laba bruto naik signifikan 75,08% menjadi sekitar Rp 2,24 triliun.

  • Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 40,13%, mencapai Rp 702,12 miliar.

Dari sisi neraca, tercatat:

  • Total aset mencapai Rp 30,50 triliun per 30 Juni 2025, naik dari Rp 28,79 triliun pada akhir 2024.

  • Liabilitas meningkat menjadi sekitar Rp 6,95 triliun dari Rp 5,59 triliun.

  • Ekuitas sedikit mengalami kenaikan menjadi Rp 23,54 triliun dari sekitar Rp 23,20 triliun.

Pandangan Eksternal: Proyeksi Harga CPO Masih Menjanjikan

Dari luar, analis memperkirakan harga CPO masih punya ruang naik. Misalnya, dalam riset Xinhua, disebutkan bahwa pasokan yang melambat bisa mendorong harga CPO dari level 4.500 ringgit ke sekitar 5.000 ringgit per ton. Xinhua News

Selain itu, menurut jajak pendapat Reuters, konsumsi biodiesel di Indonesia dianggap akan mendorong harga rata-rata CPO tahun 2025 naik ke kisaran 4.350 ringgit per ton, relatif lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

Sumber: Bisnis.com/Sn

 

Scroll to Top