Rupiah Berpeluang Menguat Didukung Ekspektasi Penurunan Suku Bunga The Fed dan Sinyal Fiskal Positif Pemerintah

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah pada Kamis (16/10/2025) diperkirakan bergerak fluktuatif namun tetap berpeluang menguat, seiring meningkatnya keyakinan pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) dan munculnya sinyal kebijakan fiskal yang lebih longgar dari pemerintah Indonesia.

Pada perdagangan Rabu (15/10/2025), rupiah ditutup menguat 27 poin ke posisi Rp16.576 per dolar AS, setelah sempat menyentuh level terbaiknya di Rp16.573 per dolar AS. Untuk perdagangan hari ini, mata uang Garuda diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.520 hingga Rp16.580 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan internal. Dari luar negeri, sentimen pasar dipengaruhi oleh pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang dinilai bernada dovish. Powell menyatakan bahwa perekonomian Amerika Serikat memang masih cukup kuat, namun pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Ia menekankan bahwa keputusan suku bunga akan ditentukan secara hati-hati dalam setiap pertemuan, tanpa jalur pasti yang bebas risiko.

Komentar tersebut memperkuat ekspektasi pelaku pasar terhadap potensi pemangkasan suku bunga The Fed pada Oktober atau Desember 2025, yang berpotensi menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahkan dolar. Kondisi ini dapat menjadi peluang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah mantan Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif hingga 100 persen terhadap produk asal Tiongkok. Pemerintah Beijing merespons dengan tegas dan menyatakan siap menghadapi segala bentuk konfrontasi. Ketegangan ini kembali memicu kekhawatiran investor global atas stabilitas hubungan perdagangan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Sementara di Eropa, situasi politik Prancis turut menjadi sorotan. Dua mosi tidak percaya terhadap pemerintahan Perdana Menteri Sebastien Lecornu berpotensi mengguncang stabilitas politik di Paris. Presiden Emmanuel Macron menolak mundur di tengah tekanan politik yang meningkat, menjadikan situasi ini sebagai salah satu krisis politik terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Dari dalam negeri, pasar menantikan kejelasan langkah pemerintah yang tengah mengkaji kemungkinan penurunan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada 2026 guna menjaga daya beli masyarakat. Meski demikian, keputusan tersebut masih menunggu hasil evaluasi penerimaan negara hingga akhir tahun ini. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa tarif PPN tetap berada di angka 11 persen tanpa mengubah Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP), dengan menerapkan skema Dasar Pengenaan Pajak (DPP) nilai lain sebesar 11/12 dari harga jual.

Adapun kenaikan tarif 12 persen hanya diberlakukan untuk Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 131 Tahun 2024, mencakup hunian mewah senilai Rp30 miliar ke atas. Menurut Ibrahim, kebijakan fiskal yang berhati-hati ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat, yang sekaligus menjadi faktor positif bagi pergerakan rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 10.50 WIB, nilai tukar rupiah terpantau stabil di posisi Rp16.575,5 per dolar AS, tidak banyak berubah dibandingkan dengan penutupan sebelumnya. Sementara pada pembukaan perdagangan pukul 09.10 WIB, rupiah sempat menguat tipis ke level Rp16.573 per dolar AS, atau naik 0,02 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Mengutip CNBC Indonesia, pergerakan rupiah juga sejalan dengan tren di kawasan Asia, di mana mayoritas mata uang regional menunjukkan penguatan terhadap dolar AS setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan tanda perlambatan. Adapun menurut Kontan.co.id, sentimen positif terhadap rupiah turut ditopang oleh aliran masuk dana asing ke pasar obligasi domestik, terutama karena imbal hasil surat utang Indonesia masih lebih menarik dibandingkan negara berkembang lain.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, rupiah berpeluang mempertahankan stabilitasnya dalam jangka pendek, meskipun volatilitas tetap mungkin terjadi apabila ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat.

Sumber: Bisnis.com/Sn

Scroll to Top